A Series Of Incomplete Entries.

I have 82 drafts sitting on Nerdus Maximus' page.

Delapan puluh dua tulisan—beberapa masih mentah tak berbentuk; seperempat tertulis dengan nada terlalu tajam for the general public; sedikit tentang cinta; dan mayoritas tentang kekesalan dan kekecewaan akan minimnya budaya membaca di Indonesia.

Hari ini gue membuka laman blog untuk menulis beberapa kalimat di entry baru yang I'm pretty sure won't be posted any time soon. Lalu terlihat lah angka 82 tersebut di samping kiri dashboard. Sembari membaca kembali beberapa tulisan yang sudah lama diterlantarkan terbesitlah pikiran, "Ini mah kalau mau diselesaikan semua ndak akan ada waktunya tapi kok sepertinya (meminjam frase yang dicanangkan oleh anak muda zaman sekarang) beberapa entries ini kalau dibuang sayang." And come to think of it, I have never stopped writing. I just haven't found the time to complete my incomplete thoughts.

So I'll post some hereincomplete, raw, uneditedcopy pasted from the original Draft entry.

By the way, ha-ha. Asli gue ngakak sendiri baca my own old, unpublished entries. Ada beberapa post yang akan gue lengkapi dengan komentar Athalia 2017 ketika membaca yang ditulis Athalia 2000something. Komentar Athalia 2017 ditulis di bawah judul draft tersebut highlighted in blue.

---
Benci Sama Cinta.
Original version.

Benci Sama Cinta yang dipublikasikan dalam blog ini beberapa tahun lalu was so heavily edited that it is safe to say that it is a completely different piece. I wrote it with full-fledged emotion at the height of my sadness when losing my grandfather. Gue merasa kalau versi awal yang gue tulis dan simpan langsung ke dalam Draft folder terlalu mentah, terlalu revealing. Jadi tak racik lagi lah the shorter version dan subjeknya pun dibuat rancu. You might have thought that it was written with a romantic-type of love as background. Tapi setelah beberapa tahun tersimpan, I think it's readyand I think the raw version of me is ready tooto be seen by the general public.


I assume that was not the first time when you felt scared. Ada kehilangan lain lagi kah yang membuat lo membenci cinta?
"Mungkin ada."
Apa lagi yang hilang karena cinta?
"Waktu."
Waktu hilang karena cinta?
"Ya. Waktu hilang karena cinta yang ternyata tidak imbang."
Could you please explain.
"Dua orang. Satu hubungan. Kekuatan jiwa dan raga ditumpahkan dalam hubungan tersebut. Ternyata yang ditumpahkan tidak imbang, malah ternyata terbagi-bagi. Kepada orang lain."
Apakah cinta akan pernah imbang?
"I don't know."
Dan lo membeci cinta karena takut kehilangan dan takut gemuruh itu kembali?
"Ya."
So how have you been operating?
"Gue menghindar dari cinta. Atau dari preferential treatments, from or to me. Jadi semua rata dan netral. Gue juga berfokus kepada output-nya.Jadi ketika sesuatu atau seseorang hilang, gue akan fine saja."
Why would you be fine?
"Karena gue tidak pernah merasakan perasaan di atas rata-rata."
Merasakan apa? Kehilangan? Apa yang akan hilang?
"Siapa yang akan hilang. Orang-orang yang gue sayang. I was scared when they go, they would take a piece of my heart with them. And then I will be incomplete."
Jadi lo takut karena lo takut kehilangan.
"Yes."
You are scared of them leaving and taking a piece of your heart with them when they go.
"Betul."
Why are you scared of being incomplete?
"Karena I cannot operate well if I am not complete."
Maksudnya?
"Ya. Kalau gue tidak utuh gue harus mulai lagi dari nol and that takes time."
Really?
"Ya. That's just the way things are."
Can you now recall when this started?
"Mungkin ketika kakek saya meninggal."
Apa yang lo rasakan?
"Something shook uncontrollably."
Tolong deskripsikan.
"Ada gemuruh hebat selama tiga menit setiap harinya mulai dari hari ketika gue menerima berita bahwa beliau pergi."
How violent was the quake?
"Pretty violent. Seingat gue titik tertingginya ketika gue melihat ke arah rumahnya dan beliau tidak ada untuk melambai tangan ketika gue berangkat kerja."
All right. Tadi lo bilang you used to hate love. Jadi sekarang sudah tidak lagi?
"No. Sudah tidak lagi."

---

Miring, Tapi Jangan Sampai Sinting.

Law school Athalia thought she knew everything. She doesn't. Tapi. Professional Athalia sekarang tahu bahwa there is no such thing as Balance 101. Adanya adalah menjalani hidup setiap hari, mengambil keputusan setiap hari, dan siap menghadapi konsekuensi dari keputusan tersebut di hari mendatang. Point is, I am starting to think before I do things. (Which I find weird karena dalam entry ini gue tulis "I think I think too much") But, hey, whatever.


I think I think too much.

Semester 6 sudah berlalu dan saya dengan lega bisa berkata, "Phew. I'm glad I survived that one." Sekarang jeng... jeng... jeng... Fase baru kehidupan telah tiba: skripsi! Tapi itu masalah nanti lah ya. Quick update on what has happened between January to June 2012... Gue baru menyelesaikan kompetisi pengadilan semu ke-4 gue which just so happen to be my last competition untuk masa undergraduate gue. Cukup sudah waktu yang telah saya habiskan di depan komputer mengutak-ngutik legal documents selama berbulan-bulan lamanya. It's really time to refocus dan sekarang juga adalah waktunya untuk kembali ke jalan yang benar dalam arti harus mulai membetulkan siklus tidur dan makan. Sekarang ini, which is June 2012, gue memutuskan untuk tidak mengambil semester pendek dan enjoy my last summer as a student. Dan to be perfectly honest di sini lah semua mulai kacau-balau.

Singkat cerita, perjalanan perkuliahan gue memang agak sedikit absurd. From the moment I stepped up into university, I wanted challenge. Gue ogah kuliah pulang kuliah pulang. Plus pelajaran pada waktu semester pertama juga agak krik dan memberikan gue lumayan waktu untuk mengambil aktifitas lainnya. So I took up moot court, ajang dimana mahasiswa di tantang untuk memecahkan secara hukum kasus fiktif dan prosesnya, kawan, berbulan-bulan lamanya. Hampir semua kompetisi yang gue lewati harus melewati seleksi nasional, artinya gue harus kerja keras untuk unggul dari anak-anak Indonesia lain yang ternyata tidak kalah tangguh dan juga memakan waktu. Secara ilmiah sudah di buktikan bahwa if you do something repeatedly for 30 days itu akan menjadi kebiasaan atau habit. Gue berkutat dengan jadwal ketat selama tiga tahun, being busy has become more than a habit. It has become a way of life. Dan sekarang gue liburan... Yang artinya jadwal gue kosong melompong dan rasanya... Aneh.

Kalau memang lo pernah membaca blog entry gue yang lainnya maybe you will know that sewaktu gue ga tau mau ngapain dan bertekad untuk duduk diam di sanalah otak gue berulah. My brain can do this thing where it backflips, run 1000 mph, and just... Membuat skenario-skenario yang hampir nyata dari yang tidak nyata. But I needed to think. I need to figure out what is wrong with me.

Ternyata, seletelah di telusuri sekian lama, I figured out that hidup gue ga seimbang. Gue pernah menulis tentang Sibuk 101, a message to people out there to stay busy. It worked, to a certain extent. Dan harus gue akui yang gue tulis juga ga ada salahnya tapi hidup itu ga ternyata selalu hanya untuk kesibukan. Gue ga bilang sibuk itu salah. No. Being busy kept me alive and well for the past three years. Tapi sekarang saatnya belajar beberapa hal lain yang life has to offer.

Here it is, folks, Balance 101.
  • Independent vs. Interdependent
Satu hal yang membuat gue cinta sekali akan kesibukan adalah the fact that you focus so much to your work dan dengan demikian masalah yang ga ada hubungannya dengan hidup lo akan secara automatis tidak akan terdaftar di pikiran lo. I didn't give a bleep tentang masalah-masalah orang di luar sana, orang yang dekat ataupun jauh karena yang ada di otak gue hanya ada: Hari ini gue harus bikin satu dua tiga empat lima. Itu selesai, terlalu capek untuk mikirin yang lain lagi. Blek. Tidur. Besoknya terulang lagi. Kuliah, buat tugas, meeting kiri kanan, urusin tugas lomba, kecapekan, tidur. My life was fine, baik malah. Prestasi ada; semua terurus dan tertata rapi indah. Hidup gue. Sendiri.

Liburan ini gue kembali "pulang", menemui orang-orang yang bisa dibilang gue tinggalkan selama tiga tahun terakhir. I went home to find out that ternyata ga semua orang bisa lari cepat dan ternyata hidup yang seperti itu hanya membawa kebahagiaan untuk satu orang saja. Jamie Cullum sang a song yang berjudul You're Nobody 'Till Somebody Loves You. Salah satu baitnya berkata, "You may be a king. You may posses the big fat world and its gold. But gold won't bring you happiness when you're growing old." Ternyata presetasi juga demikian, kawan. I was too busy to care. Gue pulang dan gue sadar kalau no man is an island. Kalau gue lari sendiri untuk meraih cita-cita, yeah sure I can go fast. Tapi dengan gue berjalan dengan dua orang atau lebih, I can go far. Ambil waktu untuk peduli dengan sekeliling lo. Jangan lupakan orang-orang di sekitar lo. It gets lonely up there when you're successful. Lo perlu temen. Jangan tinggalkan mereka buat kesuksesan lo sendiri. Fokus memang perlu. Tapi kalau mata itu selalu di arahkan ke matahari bukannya akan ada iritasi? Take some time, look around you. Ga semua orang di dunia ini sekuat lo. Pegang tangan mereka. Kalau mereka kuat, lo juga kuat kok.


---

Air.

Ditulis di Koi Kemang circa 2013 ketika gue mencium bau sengat yang familiar.

There is a reason why I refuse to sit indoors in certain cafes. From all five senses, my sense of smell is deadliest when it comes to unleashing emotions. A whiff of familiar smelling air pushes my brain to a territory known to none. I have built, in my mind, a graveyard. Thoughts unwanted, contemplation gone rouge, and pointless memories are all dumped into it. It is guarded with multiple locks and has only one key - a smell. Some people see, some listen, some feel, but I smell. It might sound odd. When I take a deep breath, my mind registers the smell of my surrounding. Thus when the memory is no longer necessary, I dump it along with its smell registry. The thing about air... It is so abundant that one never actually plans to be surrounded in familiarity. It catches you by surprise and you are suddenly engulfed in mental pictures of the things of the past. That's the thing about living. As long as you are alive, all thoughts and memories are alive too. Today I learned that you are not supposed to dumped it all in a graveyard. I have to accept that not everything in life is bright and beautiful. I made mistakes. There are broken pieces in memories. There is beauty in brokenness. It made you who you are. Live and always love.

---

Untuk Yang Layak Diperjuangkan.

2014. Dua ribu empat belas. Tahun yang lumayan bikin pening. Ketika sudah memasuki umur di mana teman-teman gue sudah mulai menyiapkan pernikahan, gue masih, ya… I was still doing things Athalia's way. 


Sendiri berani, berdua sehidup semati.

Dulu gue bisa dengan semangat membara menanamkan kalimat tersebut kepada orang-orang yang sedang... apa ya... berjuang untuk bertahan. Athalia sucks at romance and is not a believer of relationships based on merely on that feeling you all call as love. Gue tidak berbakat dalam segala yang berhubungan dengan keunyu-unyuan dan romansa. Menurut gue perasaan tersebut hanya angin lalu. Tapi gue paham betul kalau janji harus ditepati. Maka dari itu, I take extreme caution ketika memilih untuk mempercayakan hati. My research process is long and in-depth. Gue pernah mengulas dan mengibaratkan kalau memilih pacar lebih sulit daripada memilih presidenGirlfriend, that ain't no lie. That has to be done. And, goodness gracious, it is easier said than done (only if you do not set a strong foundation the first time).

Kenapa? Karena berjalan berdua tidak membuat hidup menjadi lebih mudah.

"Gue mau nikah tahun depan," cetus seorang teman dengan mantap. "Oh? Sudah siap?" tanya gue sambil menyendok sesuap nasi. (It's weird how these blogposts are always inspired by lunchtime conversations dan biasanya gue yang lapar sementara teman-teman gue ngelantur dengan ide-ide ajaib mereka. I love my friends.) "Yep!" jawabnya mantap. I stare at my friendI know she's ready. Dia jago masak, perhatian terhadap pacarnya, baik hati, cantik, soleha, dan lain sebagainya. Perfect wife material.

Lah gue...? Gue ga bisa masak—because I was at this point where I believe that women are no longer slave to the stove!—dan gue ga bisa nyetir. Gue baru akan mulai masuk industri professional. Gue masih sering gundah gulana tentang bagaimana gue bisa memaksimalkan waktu gue untuk membantu mempercepat perkembangan negeri ini. Gue secara finansial masih belum mapan. Dan gue masih belum sebaik hati, sesabar, dan seperhatian orang lain terhadap pasangan mereka. I operate my life with extermely high-level of cuek bebek. Kalau bebek bisa dicuekin, gue cuekin juga mungkin. Gue sedang berada dalam posisi di mana gue ga tau mau pilih jurusan apa for my graduate school. And there are my girlfriends prepping themselves up for marriage.

Marriage! The smallest unit of society established based on love between two individuals.

Based on love. I don't even know what love is! Bloody hell.

---

September 2016.

Apparently I copy pasted this WhatsApp conversation to the Draft folder. Entah apa rencana gue. Mungkin lima poin ini tadinya akan gue kembangkan untuk menjadi sebuah entry.

[16:52, 9/5/2016] Athalia K Y Soemarko: 1. I think, I read, and I write.    
[16:52, 9/5/2016] Athalia K Y Soemarko: 2. I have a weird educational background.           
[16:53, 9/5/2016] Athalia K Y Soemarko: 3. I get very curious on ideas and concepts.
[16:53, 9/5/2016] Athalia K Y Soemarko: 4. I think out loud.
[16:53, 9/5/2016] Athalia K Y Soemarko: 5. I am not easily amused.