Jakarta, 3 Oktober 2016.

Ketika seorang tiada, apa yang tersisa? 
Karya—tulisan, nyanyian, lukisan, syair, pahatan, puisi, gambar atau goresan. Manusia dengan segala keterbatasannya mencoba menyampaikan apa yang dirasa melalui karya.

Menulis, merangkai aksara menjadi kata.
Menyanyi, menjahit nada melantun suara.
Melukis, menyatukan warna menggambarkan suasana.
Bersyair, mengarang larik menuturkan sabda.
Memahat, membuat nyata khayalan yang awalnya tak ada.
Berpuisi, mengumandangkan bait kata bersahaja.

Karya.

Ketika satu hari nanti nyawamu tiada, karyamu yang akan berbicara.

Dengan segala keterbatasan yang ada, aku menulis, menggores tinta di atas kertas, menekan jari-jari pada tuts gawai. Nyata atau maya, buah pemikiran dan rasa dituang dalam bentuk kata, kalimat, dan paragraf.

Sepenggal tulisan dalam satu surat elektronik yang diketik pada suatu Senin malam dalam perjalan pulang sambil bergelantungan berpegangan mencari keseimbangan untuk tidak terjatuh karena lajunya bis TransJakarta. Entah apa yang sedang dirasa.


Salam,
Athalia Karima Yedida Soemarko.

No comments:

Post a Comment