A Certain Nonchalance.

"I have discovered a universal rule which seems to apply more than any other in all human actions or words, namely, to steer away from affectation at all costs, as if it were a rough and dangerous reef, and (to use perhaps a novel word for it) to practice in all things a certain nonchalance which conceals all artistry and makes whatever one says or does seem uncontrived and effortless.

I am sure that grace springs especially from this—since everyone knows how difficult it is to accomplish some usual feat perfectly—and so facility in such things excites the wonder; whereas, in contrast, to labor at what one is doing as we say, to make bones over it, shows an extreme lack of grace and causes everything, whatever its worth, to be discounted. So we can truthfully say that true art is what does not seem to be art—and the most important thing is to conceal it, because if it is revealed, this discredits a man completely and ruins his reputation. I remember once having read of certain outstanding orators of the ancient world who, among the other things they did, tried hard to make everyone believe that they were ignorant of letters, and dissembling their knowledge, they made their speeches appear to have been composed very simply and according to the promptings of nature and truth rather than effort and artifice. For if the people had known of their skills, they would have been frightened of being deceived. So you see that to reveal intense application and skill robs everything of grace."

Baldassare Castiglione was a courtier who entered into the service of Francesco Gonzaga, the marquis of Mantua, in 1499 and Guidobaldo da Montefeltro, the duke of Urbino, in 1504. Later, in Rome, he served Pope Julius II and befriended the painter Raphael. The excerpt above was taken from Lapham's Quarterly.

Cara Membaca.

I am secretly satisfied with myself today. Though this might no longer be a secret since I'm writing it on a blog read by the general public.

Hari ini gue hijrah turun dari perpustakaan di lantai dua rumah gue ke ruangan kecil yang biasanya digunakan oleh ibuku sebagai ruang "nyalon kalau lagi malas ke salon" di lantai satu karena nyamuk yang makin merajarela. I'd kill them all but the buzz and the fuss is just not worth my time. So I moved. Ukuran ruangan dimana gue sekarang berada dan menulis kecil. Mungkin sekitar 2x3 meter persegi dengan jendela yang menghadap ke arah barat dan pendingin ruangan yang terlalu besar untuk ruangan sekecil ini. Apart from that, the room is empty. Sekarang hanya ada satu meja, satu kursi, tumpukan buku yang sedang gue baca, and my speaker which I placed facing the wall so that the sound will bounce around. The room's acoustics is great, the sound of my new found musics resonates beautifully. I cannot be more than happy. While writing this, my Dad texted kalau kecepatan wi-fi di rumah sudah dinaikan to the highest speed available for the Home Package. Wonderful! Sepertinya gue akan makin jarang keluar rumah.

I love working from home and I love my new home office (or study-space, karena I am yet to find, or create, a career with great financial returns that can be operated from home). An hour ago I tweeted about thinking about calling this spot as "The Brewery". Pada dasarnya brewery adalah pabrik bir. "Brew" dalam Bahasa Inggris adalah kata kerja yang artinya, menurut Kamus Merriam-Webster, to make beer, coffee, or tea; to start to form. Untuk memulai membentuk. As cheeky as it sounds, gue mau mulai membentuk. Salah satu yang gue mau bentuk di tahun 2015 ini adalah kebiasaan untuk menulis lebih banyak lagi. I haven't been writing much but I have been reading a lot. And I post what I read on one of my social media platforms, Instagram, which sometimes transform into a Question and Answer platform. One of the most frequent questions posted apart from "Edit photo-nya dimana, kakak" adalah "Gimana sih caranya baca buku...".

Aneh.

Sebenarnya jika ia yang bertanya bisa membaca caption yang gue tulis, ia yang bertanya pasti bisa membaca. That's the logic. Tapi mungkin yang bertanya belum berminat (atau belum pernah mencoba untuk mendorong diri) untuk membaca buku. Reading is a part of living, buat gue. Rencana Kerja Jangka Sampai Dipanggil Kembali ("RKJSDK") seorang Athalia Soemarko adalah to always love, to always learn, and to always share. Memang di tahun 2015 ini fokusnya di dua unsur: to always learn and share, dengan cara menulis. Yang ternyata tidak mudah, especially when it comes to the law which requires extra effort on my side but I love it nonetheless. Cough. Anyway, salah satu cara untuk menulis dengan efektif adalah dengan membaca, mengamati pemikiran dan gaya penulis-penulis yang sudah lalu, yang pernah menjalani pengalaman-pengalaman yang berbeda dengan gue, yang belajar hal-hal yang gue ga pernah pelajari, dan lain sebagainya. So I read. I read because I want to know. The world is vast and beautiful. Dan gue memang orangnya ga bisa diam. I have to buzz (like the mosquitos up at the library that's why we don't get along). So I figured, to shush mereka yang bertanya "bagaimana cara membaca buku" I might as well write what I do when I read a book.

Jadi bagi yang mau memulai kebiasaan membaca, for whatever reason, here are some little steps that will hopefully help.

Oh, catatan kecil sebelum mulai lebih jauh: you have to be curious. Kalau rasa ingin tahu lo ga nyala, mau buku setebal atau setipis apapun tidak akan menjadi asupan yang baik untuk otak lo. You will fall asleep while reading a 30-page book karena lo gatau kenapa lo membaca. That's really a habit yang bisa diubah. (I dare say kalau lo bisa kepo sama orang-orang yang ga penting untuk dikepoin, you can have the curiosity for something greater than urusan hidup orang lain yang harusnya ga lo urusin.)

Let's start.

  • CARI BUKU. Tadinya gue berpikir untuk mulai dari unsur kedua tapi sepertinya akan lebih apik kalau kita mulai dengan mencari buku (yang lo suka karena this will force you to make time). Unsur ini akan lebih mudah untuk dimengerti jika langkah-langkahnya gue rincikan dalam bentuk tanya jawab.
    • Langkah pertama, pergi lah ke toko buku. "Toko buku yang mana, kak?" Yang mana saja. I have no personal favorites, you shouldn't too (kecuali kalau lo ada kartu keanggotaan yang membuat pembelian lo jadi diskon setengah harga atau alasan ekonomi lainnya). Toko buku yang gue kunjungi selalu tergantung situasi dan kondisi. Kalau lagi di Pondok Indah Mall, ya Gramedia, Periplus, dan Kinokuniya. Kalau lagi di Pacific Place, Aksara dan Books&Beyond. Kalau lagi di Senayan City, Toko Buku Gunung Agung. There.
    • Langkah kedua, "kalau ke toko buku, ke bagian mana?". Untuk ini, tergantung selera dan kebutuhan. I usually skip the chick-lit section in its entirety. Novel atau buku romansa a la aku cinta kamu tapi kamu sudah memiliki kekasih lalu aku sedih dan menjadi melankolis berlebihan is not my thing. Lorong yang berisi komik juga jarang gue kunjungi. Terakhir menapakan kaki di sana adalah tahun 2000. Yes, it's been that long dan dulu pun hanya untuk beli seri Detektif Conan. I was 9 years old when I stopped reading comic books. Might want to do the same if it is not something you're passionate about. Jadi gue langsung menuju lorong Sosial-Politik dan Sejarah lalu berkutatlah disana sampai menemukan buku yang gue butuhkan atau menggelitik rasa ingin tahu. Kalau ingin membaca cerita fiksi, ya langsung ke lorong Sastra. Kalau memang bingung, head to the New Release section. Mulai lah dari sana.
    • Langkah ketiga berhubungan dekat dengan unsur kedua, yang adalah waktu. "Kalau ke toko buku, beli berapa buku, kak?" Tergantung ada waktu atau tidak, nak. Dan tergantung sasaranmu juga. If you want to learn how to finish a book, stick with one. Beli satu, duduk, baca. Habiskan. Dari depan sampai belakang. Jangan berhenti ditengah. Ha. Bis. Kan. Baru setelah itu kembali lah ke toko buku untuk beli buku baru.
    • "Habis itu ngapain, kak?" Bayar. Lalu cari waktu.

  • CARI WAKTU. Seperti setiap manusia di muka bumi ini, I only have 24 hours per day dan sepertinya setahun ke depan akan hanya ada 48 jam di akhir pekan yang gue bisa kutak-katik untuk membaca dan menulis. So I've been choosing my books carefully so that I won't have to waste time reading something that is not worth the while. Waktu kuliah, gue makan segala jenis buku karena banyak waktu dan sedikit tanggung jawab. Sekarang terbalik sudah (dan harapannya akan berubah menjadi seimbang 5 tahun kedepan). Maka dari itu gue lebih picky dengan apa yang gue baca. Kalau ada rangkuman yang mejelaskan buku tersebut dalam 3 atau 4 halaman atau dengan waktu sesingkat 15 menit, I usually skip the book. Kalau memang bukunya menarik dan waktunya tidak memungkinkan di akhir pekan, maka gue akan... Mari lihat unsur ketiga.

  • CARI TEMPAT. Kalau memang bukunya menarik dan waktunya tidak memungkinkan, gue baca di mobil ketika macet. Kalau sudah cukup tidur dan tidak harus mencuri waktu untuk menambah waktu tutup mata, gue mulai membaca. I don't drive jadi gue tidak membahayakan orang lain. Dan karena waktu SMP/SMA gue sering buat pekerjaan rumah di mobil jadi sudah ga ada lagi judul pusing karena baca di tempat yang bergerak. Salah satu tempat kesukaan gue untuk membaca fiksi adalah ketika di dalam pesawat. Imajinasi lepas tanpa gangguan. Penerbangan dengan waktu tempuh 8 jam sangat ideal untuk menghabiskan satu atau dua buku fiksi. Trains are all right too. Jakarta - Bandung memakan waktu 4 jam, Jakarta - Yogyakarta 8 jam; ada waktu ada tempat. Sebenarnya membaca bisa dimana saja dan kapan saja as long as I have my in-ear headphones. Setelah pencarian jauh dekat disini disana, Sennheiser CX-300 II sudah meneduhkan dan menenangkan gue dari tahun 2012. In this noise-filled world, my in-ear headphones is my mute button. Di mana pun gue bisa mendapatkan ketenangan, disitulah gue bisa mulai membaca. I create peace by blocking unnecessary noises. Ga usah ngawur-ngidul cari tempat di cafe atau tempat yang menurut lo kondusif. Create your own reading spot.
Those are my three steps. Untuk gue, duduk di The Brewery dengan buku atau artikel yang membuat gue go "Hmm..."  cukup fulfilling. Selamat membaca.

Salam,
Athalia Karima Yedida Soemarko.

Bersekolah Tapi Tidak Berpendidikan?

Masyarakat publik–anda dan saya–memiliki kewajiban yang harus kita pikul bersama untuk memajukan pendidikan bangsa. Selain pemerintah dan guru, pihak-pihak yang sangat terkait dalam lingkup pendidikan adalah orang tua dan anak-anak. Masing-masing harus menyadari, mengingat, dan melaksanakan perannya dengan sebaik-baiknya.
Untuk orang tua, kemampuan bisa dikatagorisasikan menjadi dua: kemampuan untuk mendidik dan kemampuan untuk menyekolahkan. Kata “didik” dijabarkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai kata kerja yang memiliki arti untuk “memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran”. Mendidik seyogianya tidak selalu membutuhkan uang yang banyak. Melatih dan/atau mendidik memerlukan waktu dan energi. Banyak orang tua yang bisa menyekolahkan anaknya tetapi melupakan aspek ‘didik’. Mereka menyerahkan keseluruhan tanggung jawab mendidik anaknya kepada guru dan pemerintah tanpa mengambil peran dalam pertumbuhan anak sendiri.
Untuk anak, bertumbuh dalam era globalisasi adalah satu keuntungan yang besar. Akses informasi melalui medium semacam internet, televisi, dan lain sebagainya sudah menjadi sangat mudah. Sekarang pilihan ada di tangan sang anak, dan juga dengan bimbingan orang tuanya, untuk memilih apa yang akan ia cerna. Harus ada keseimbangan antara asupan yang mendidik dan yang menghibur. Sang anak pun juga harus mengambil tanggung jawabnya untuk belajar. Tidak semua kewajiban memilih ada di tangan orang tua. Anak yang sudah cukup umur untuk mengambil keputusannya sendiri harusnya bisa memilih untuk mendidik dirinya sendiri.
Secara umum, tanggung jawab dalam pendidikan dibagi menjadi dua: sistemik dan penerapan. Mayoritas tanggung jawab sistemik ada kepada pemerintah dan guru. Sementara mayoritas tanggung jawab penerapan ada di tangan orang tua dan anak-anak. Jika setiap bagian mengambil dan melaksanakan peran masing-masing dengan sebaik-baiknya, penyelesaian masalah pendidikan di Indonesia akan berjalan lebih cepat.


Cuplikan pendek dari goresan pena dalam buku catatan yang sepertinya harus pensiun sebentar lagi. (Agustus 2014)

Not Going To Be Alone Forever.

Jomblo (noun) is an Indonesian state of mind of being beyond merely single. It is an abyss of eternal loneliness. When used in a sentence, it is sometimes equal with the newly developed phrase: 'forever alone'.

"Kenapa kita ga punya pacar ya?" tanya gue sambil berusaha membuka sellotape yang menyatukan rapat sekotak cupcakes. Dua pasang mata menyorot tajam proses pembukaan kotak merah jambu ini. Pandangan tak lepas dari dua belas kudapan manis yang terpangku di pangkuan gue. "Itu tinggal ditarik loh. Kenapa lama sih..." si Kiri memprotes. Pelan-pelan gue mencoba mengupas lepas selotip yang sepertinya ditempel dengan kekuatan Herkules. "Because if this thing tilts, there goes our dessert," ujar gue tenang. "Tadi lo nanya apa, Tha?" tanya si Kanan dengan datar. "Kenapa kita ga punya pacar," ulang gue, masih bergulat dengan selotip nakal. "Ya karena bahagia ga selalu harus karena cinta," timpal si Kiri dengan nada tidak sabar. Seperti kena sihir, terbuka lah si kotak cupcakes. Dua belas kue berbentuk mangkok dengan cream cheese yang melingkar di atasnya bersinar bak harta karun yang ada dalam peti. Sepertinya kami telah menemukan kebahagiaan.

Kami bertiga—Kiri, Kanan, dan aku—sudah bersahabat sejak lama. Dulu, hampir setiap hari kami bertemu. Tetapi dengan sejalannya waktu dan mengalir derasnya kesibukan masing-masing, we come to a point where we have to make effort untuk menyesuaikan jadwal supaya ada waktu untuk duduk bertiga. To recharge. Tiga tahun terakhir ini kami masing-masing menjadi sendiri, tidak memiliki tambatan hati. Jomblo, kalau kata kebanyakan orang; single, terminologi halusnya.

Kami duduk bertiga di kursi tengah mobil (karena we like the warmth of squeezing together plus Kanan dan Kiri pun tidak gemuk), we chewed on our cupcakes. Kami diam. Sepertinya Kiri, Kanan, dan aku hanyut dalam dera pikiran. Gue melirik dua manusia yang berada di kiri dan kanan gue and I wonder why they are alone. I am personally of the opinion that it would not be hard for them to have somebody to love and to hold. They are, admittedly, good looking (menurut orang; menurut gue sih biasa aja)They come from established families. They are well-educated. They have ideas. They travel often. They are financially stable. They are squeaky clean and they have enjoyable personalities. Aneh. Bibit, bobot, bebet sudah terpenuhi. Malah berlebih sepertinya. What else?

Habis lah sekotak cupcakes dan sampai lah kami di tempat tujuan. Turun dari mobil, kami berpisah and I finally get to sit and think on my own. "Jadi, Athalia. What do you need? Who do you need?" Otak ini berputar dan sepertinya menemukan formula kriteria dasar teman hidup.

Ada tiga kriteria dasar*: berprestasi tapi asik, berpendirian tapi bisa menerima kritik, dan beragama tapi tidak fanatik. Yang akan dielaborasikan hanya yang pertama; karena yang kedua dan ketiga still confuses me. Following the wise words of Casey Veggies, "My dad told me if it ain't legit, don't record it." The same goes with writing, I think. Jadi gue akan kunyah-kunyah kembali kriteria dua dan tiga sebelum I spit it out there. But here's the first criterion.

BERPRESTASI TAPI ASIK. Kriteria ini diracik dari pembicaraan serampangan antara seorang teman dan gue sembari melawan gigitan-gigitan nyamuk di beranda belakang. Entah kenapa yang seperti ini selalu muncul diantara kunyahan-kunyahan kentang goreng.
X: "Gue mau punya pacar yang pintar."
A: "Define pintar."
X: "Ya gitu deh. Ya udah. Gue mau punya pacar yang smart."
A: "Smart, intelligent, atau knowledgable?"
X: "Apa bedanya?"
A: "Intensitasnya."
X: "Gue mau punya pacar yang......"
A: "Emang orang bakal mau punya pacar kaya lo?"
X: "Huh? What. Gatau."
A: "Did you get it?"
X: "No."
A: "Exactly."
X: "Gosh. Okay. Maybe gue belom siap."

Ini sama dengan alur pembicaraan yang bermulai dengan kalimat "Syarat pertama pacar gue adalah: bersekolah!" That's too broad of a syarat, man. Jakarta ini kebetulan isinya manusia-manusia yang bersekolah. Mereka menjalani pendidikan, spent 12 years of their life, at least, in school. Delapan jam mereka habiskan duduk dalam kelas setiap hari dengan guru-guru yang ada di sana untuk mengajar. Mayoritas juga lulus Ujian Akhir Nasional. Jujur atau tidak, itu urusan individual. Jadi mungkin berprestasi adalah kata yang lebih tepat. Kenapa? Karena menurut gue prestasi ada tolak ukurnya. Prestasi tidak jauh dari hasil, or output (yang gue assumsi adalah hasil dari input). Seseorang yang bersekolah belum tentu berpresetasi. Dan orang yang berprestasi belum tentu berpendidikan. Nah loh.

This wasn't supposed to be complicated...

Mungkin gue akan commit multiple fallacies if I continue writing. I shall stop. And think about this some more. Or maybe just fall asleep and ignore this all together.


Salam dari manusia who had too much caffeine,
Athalia Karima Yedida Soemarko.




*Catatan: Kata "mungkin" akan diulang berkali-kali karena this is subjective. It depends on, well, you and how you like your pasangan to be like dan juga karena gue takut HAHAHA. Masa depan siapa yang tau sih? Bisa saja nanti dalam perjalanan hidup, gue menemukan orang yang sama sekali tidak masuk dalam ketiga kriteria ini. Terus gimana? (Ya udah is not a legitimate answer.) But that won't stop me from writing this.