Not Going To Be Alone Forever.

Jomblo (noun) is an Indonesian state of mind of being beyond merely single. It is an abyss of eternal loneliness. When used in a sentence, it is sometimes equal with the newly developed phrase: 'forever alone'.

"Kenapa kita ga punya pacar ya?" tanya gue sambil berusaha membuka sellotape yang menyatukan rapat sekotak cupcakes. Dua pasang mata menyorot tajam proses pembukaan kotak merah jambu ini. Pandangan tak lepas dari dua belas kudapan manis yang terpangku di pangkuan gue. "Itu tinggal ditarik loh. Kenapa lama sih..." si Kiri memprotes. Pelan-pelan gue mencoba mengupas lepas selotip yang sepertinya ditempel dengan kekuatan Herkules. "Because if this thing tilts, there goes our dessert," ujar gue tenang. "Tadi lo nanya apa, Tha?" tanya si Kanan dengan datar. "Kenapa kita ga punya pacar," ulang gue, masih bergulat dengan selotip nakal. "Ya karena bahagia ga selalu harus karena cinta," timpal si Kiri dengan nada tidak sabar. Seperti kena sihir, terbuka lah si kotak cupcakes. Dua belas kue berbentuk mangkok dengan cream cheese yang melingkar di atasnya bersinar bak harta karun yang ada dalam peti. Sepertinya kami telah menemukan kebahagiaan.

Kami bertiga—Kiri, Kanan, dan aku—sudah bersahabat sejak lama. Dulu, hampir setiap hari kami bertemu. Tetapi dengan sejalannya waktu dan mengalir derasnya kesibukan masing-masing, we come to a point where we have to make effort untuk menyesuaikan jadwal supaya ada waktu untuk duduk bertiga. To recharge. Tiga tahun terakhir ini kami masing-masing menjadi sendiri, tidak memiliki tambatan hati. Jomblo, kalau kata kebanyakan orang; single, terminologi halusnya.

Kami duduk bertiga di kursi tengah mobil (karena we like the warmth of squeezing together plus Kanan dan Kiri pun tidak gemuk), we chewed on our cupcakes. Kami diam. Sepertinya Kiri, Kanan, dan aku hanyut dalam dera pikiran. Gue melirik dua manusia yang berada di kiri dan kanan gue and I wonder why they are alone. I am personally of the opinion that it would not be hard for them to have somebody to love and to hold. They are, admittedly, good looking (menurut orang; menurut gue sih biasa aja)They come from established families. They are well-educated. They have ideas. They travel often. They are financially stable. They are squeaky clean and they have enjoyable personalities. Aneh. Bibit, bobot, bebet sudah terpenuhi. Malah berlebih sepertinya. What else?

Habis lah sekotak cupcakes dan sampai lah kami di tempat tujuan. Turun dari mobil, kami berpisah and I finally get to sit and think on my own. "Jadi, Athalia. What do you need? Who do you need?" Otak ini berputar dan sepertinya menemukan formula kriteria dasar teman hidup.

Ada tiga kriteria dasar*: berprestasi tapi asik, berpendirian tapi bisa menerima kritik, dan beragama tapi tidak fanatik. Yang akan dielaborasikan hanya yang pertama; karena yang kedua dan ketiga still confuses me. Following the wise words of Casey Veggies, "My dad told me if it ain't legit, don't record it." The same goes with writing, I think. Jadi gue akan kunyah-kunyah kembali kriteria dua dan tiga sebelum I spit it out there. But here's the first criterion.

BERPRESTASI TAPI ASIK. Kriteria ini diracik dari pembicaraan serampangan antara seorang teman dan gue sembari melawan gigitan-gigitan nyamuk di beranda belakang. Entah kenapa yang seperti ini selalu muncul diantara kunyahan-kunyahan kentang goreng.
X: "Gue mau punya pacar yang pintar."
A: "Define pintar."
X: "Ya gitu deh. Ya udah. Gue mau punya pacar yang smart."
A: "Smart, intelligent, atau knowledgable?"
X: "Apa bedanya?"
A: "Intensitasnya."
X: "Gue mau punya pacar yang......"
A: "Emang orang bakal mau punya pacar kaya lo?"
X: "Huh? What. Gatau."
A: "Did you get it?"
X: "No."
A: "Exactly."
X: "Gosh. Okay. Maybe gue belom siap."

Ini sama dengan alur pembicaraan yang bermulai dengan kalimat "Syarat pertama pacar gue adalah: bersekolah!" That's too broad of a syarat, man. Jakarta ini kebetulan isinya manusia-manusia yang bersekolah. Mereka menjalani pendidikan, spent 12 years of their life, at least, in school. Delapan jam mereka habiskan duduk dalam kelas setiap hari dengan guru-guru yang ada di sana untuk mengajar. Mayoritas juga lulus Ujian Akhir Nasional. Jujur atau tidak, itu urusan individual. Jadi mungkin berprestasi adalah kata yang lebih tepat. Kenapa? Karena menurut gue prestasi ada tolak ukurnya. Prestasi tidak jauh dari hasil, or output (yang gue assumsi adalah hasil dari input). Seseorang yang bersekolah belum tentu berpresetasi. Dan orang yang berprestasi belum tentu berpendidikan. Nah loh.

This wasn't supposed to be complicated...

Mungkin gue akan commit multiple fallacies if I continue writing. I shall stop. And think about this some more. Or maybe just fall asleep and ignore this all together.


Salam dari manusia who had too much caffeine,
Athalia Karima Yedida Soemarko.




*Catatan: Kata "mungkin" akan diulang berkali-kali karena this is subjective. It depends on, well, you and how you like your pasangan to be like dan juga karena gue takut HAHAHA. Masa depan siapa yang tau sih? Bisa saja nanti dalam perjalanan hidup, gue menemukan orang yang sama sekali tidak masuk dalam ketiga kriteria ini. Terus gimana? (Ya udah is not a legitimate answer.) But that won't stop me from writing this.

No comments:

Post a Comment