Cara Membaca.

I am secretly satisfied with myself today. Though this might no longer be a secret since I'm writing it on a blog read by the general public.

Hari ini gue hijrah turun dari perpustakaan di lantai dua rumah gue ke ruangan kecil yang biasanya digunakan oleh ibuku sebagai ruang "nyalon kalau lagi malas ke salon" di lantai satu karena nyamuk yang makin merajarela. I'd kill them all but the buzz and the fuss is just not worth my time. So I moved. Ukuran ruangan dimana gue sekarang berada dan menulis kecil. Mungkin sekitar 2x3 meter persegi dengan jendela yang menghadap ke arah barat dan pendingin ruangan yang terlalu besar untuk ruangan sekecil ini. Apart from that, the room is empty. Sekarang hanya ada satu meja, satu kursi, tumpukan buku yang sedang gue baca, and my speaker which I placed facing the wall so that the sound will bounce around. The room's acoustics is great, the sound of my new found musics resonates beautifully. I cannot be more than happy. While writing this, my Dad texted kalau kecepatan wi-fi di rumah sudah dinaikan to the highest speed available for the Home Package. Wonderful! Sepertinya gue akan makin jarang keluar rumah.

I love working from home and I love my new home office (or study-space, karena I am yet to find, or create, a career with great financial returns that can be operated from home). An hour ago I tweeted about thinking about calling this spot as "The Brewery". Pada dasarnya brewery adalah pabrik bir. "Brew" dalam Bahasa Inggris adalah kata kerja yang artinya, menurut Kamus Merriam-Webster, to make beer, coffee, or tea; to start to form. Untuk memulai membentuk. As cheeky as it sounds, gue mau mulai membentuk. Salah satu yang gue mau bentuk di tahun 2015 ini adalah kebiasaan untuk menulis lebih banyak lagi. I haven't been writing much but I have been reading a lot. And I post what I read on one of my social media platforms, Instagram, which sometimes transform into a Question and Answer platform. One of the most frequent questions posted apart from "Edit photo-nya dimana, kakak" adalah "Gimana sih caranya baca buku...".

Aneh.

Sebenarnya jika ia yang bertanya bisa membaca caption yang gue tulis, ia yang bertanya pasti bisa membaca. That's the logic. Tapi mungkin yang bertanya belum berminat (atau belum pernah mencoba untuk mendorong diri) untuk membaca buku. Reading is a part of living, buat gue. Rencana Kerja Jangka Sampai Dipanggil Kembali ("RKJSDK") seorang Athalia Soemarko adalah to always love, to always learn, and to always share. Memang di tahun 2015 ini fokusnya di dua unsur: to always learn and share, dengan cara menulis. Yang ternyata tidak mudah, especially when it comes to the law which requires extra effort on my side but I love it nonetheless. Cough. Anyway, salah satu cara untuk menulis dengan efektif adalah dengan membaca, mengamati pemikiran dan gaya penulis-penulis yang sudah lalu, yang pernah menjalani pengalaman-pengalaman yang berbeda dengan gue, yang belajar hal-hal yang gue ga pernah pelajari, dan lain sebagainya. So I read. I read because I want to know. The world is vast and beautiful. Dan gue memang orangnya ga bisa diam. I have to buzz (like the mosquitos up at the library that's why we don't get along). So I figured, to shush mereka yang bertanya "bagaimana cara membaca buku" I might as well write what I do when I read a book.

Jadi bagi yang mau memulai kebiasaan membaca, for whatever reason, here are some little steps that will hopefully help.

Oh, catatan kecil sebelum mulai lebih jauh: you have to be curious. Kalau rasa ingin tahu lo ga nyala, mau buku setebal atau setipis apapun tidak akan menjadi asupan yang baik untuk otak lo. You will fall asleep while reading a 30-page book karena lo gatau kenapa lo membaca. That's really a habit yang bisa diubah. (I dare say kalau lo bisa kepo sama orang-orang yang ga penting untuk dikepoin, you can have the curiosity for something greater than urusan hidup orang lain yang harusnya ga lo urusin.)

Let's start.

  • CARI BUKU. Tadinya gue berpikir untuk mulai dari unsur kedua tapi sepertinya akan lebih apik kalau kita mulai dengan mencari buku (yang lo suka karena this will force you to make time). Unsur ini akan lebih mudah untuk dimengerti jika langkah-langkahnya gue rincikan dalam bentuk tanya jawab.
    • Langkah pertama, pergi lah ke toko buku. "Toko buku yang mana, kak?" Yang mana saja. I have no personal favorites, you shouldn't too (kecuali kalau lo ada kartu keanggotaan yang membuat pembelian lo jadi diskon setengah harga atau alasan ekonomi lainnya). Toko buku yang gue kunjungi selalu tergantung situasi dan kondisi. Kalau lagi di Pondok Indah Mall, ya Gramedia, Periplus, dan Kinokuniya. Kalau lagi di Pacific Place, Aksara dan Books&Beyond. Kalau lagi di Senayan City, Toko Buku Gunung Agung. There.
    • Langkah kedua, "kalau ke toko buku, ke bagian mana?". Untuk ini, tergantung selera dan kebutuhan. I usually skip the chick-lit section in its entirety. Novel atau buku romansa a la aku cinta kamu tapi kamu sudah memiliki kekasih lalu aku sedih dan menjadi melankolis berlebihan is not my thing. Lorong yang berisi komik juga jarang gue kunjungi. Terakhir menapakan kaki di sana adalah tahun 2000. Yes, it's been that long dan dulu pun hanya untuk beli seri Detektif Conan. I was 9 years old when I stopped reading comic books. Might want to do the same if it is not something you're passionate about. Jadi gue langsung menuju lorong Sosial-Politik dan Sejarah lalu berkutatlah disana sampai menemukan buku yang gue butuhkan atau menggelitik rasa ingin tahu. Kalau ingin membaca cerita fiksi, ya langsung ke lorong Sastra. Kalau memang bingung, head to the New Release section. Mulai lah dari sana.
    • Langkah ketiga berhubungan dekat dengan unsur kedua, yang adalah waktu. "Kalau ke toko buku, beli berapa buku, kak?" Tergantung ada waktu atau tidak, nak. Dan tergantung sasaranmu juga. If you want to learn how to finish a book, stick with one. Beli satu, duduk, baca. Habiskan. Dari depan sampai belakang. Jangan berhenti ditengah. Ha. Bis. Kan. Baru setelah itu kembali lah ke toko buku untuk beli buku baru.
    • "Habis itu ngapain, kak?" Bayar. Lalu cari waktu.

  • CARI WAKTU. Seperti setiap manusia di muka bumi ini, I only have 24 hours per day dan sepertinya setahun ke depan akan hanya ada 48 jam di akhir pekan yang gue bisa kutak-katik untuk membaca dan menulis. So I've been choosing my books carefully so that I won't have to waste time reading something that is not worth the while. Waktu kuliah, gue makan segala jenis buku karena banyak waktu dan sedikit tanggung jawab. Sekarang terbalik sudah (dan harapannya akan berubah menjadi seimbang 5 tahun kedepan). Maka dari itu gue lebih picky dengan apa yang gue baca. Kalau ada rangkuman yang mejelaskan buku tersebut dalam 3 atau 4 halaman atau dengan waktu sesingkat 15 menit, I usually skip the book. Kalau memang bukunya menarik dan waktunya tidak memungkinkan di akhir pekan, maka gue akan... Mari lihat unsur ketiga.

  • CARI TEMPAT. Kalau memang bukunya menarik dan waktunya tidak memungkinkan, gue baca di mobil ketika macet. Kalau sudah cukup tidur dan tidak harus mencuri waktu untuk menambah waktu tutup mata, gue mulai membaca. I don't drive jadi gue tidak membahayakan orang lain. Dan karena waktu SMP/SMA gue sering buat pekerjaan rumah di mobil jadi sudah ga ada lagi judul pusing karena baca di tempat yang bergerak. Salah satu tempat kesukaan gue untuk membaca fiksi adalah ketika di dalam pesawat. Imajinasi lepas tanpa gangguan. Penerbangan dengan waktu tempuh 8 jam sangat ideal untuk menghabiskan satu atau dua buku fiksi. Trains are all right too. Jakarta - Bandung memakan waktu 4 jam, Jakarta - Yogyakarta 8 jam; ada waktu ada tempat. Sebenarnya membaca bisa dimana saja dan kapan saja as long as I have my in-ear headphones. Setelah pencarian jauh dekat disini disana, Sennheiser CX-300 II sudah meneduhkan dan menenangkan gue dari tahun 2012. In this noise-filled world, my in-ear headphones is my mute button. Di mana pun gue bisa mendapatkan ketenangan, disitulah gue bisa mulai membaca. I create peace by blocking unnecessary noises. Ga usah ngawur-ngidul cari tempat di cafe atau tempat yang menurut lo kondusif. Create your own reading spot.
Those are my three steps. Untuk gue, duduk di The Brewery dengan buku atau artikel yang membuat gue go "Hmm..."  cukup fulfilling. Selamat membaca.

Salam,
Athalia Karima Yedida Soemarko.

4 comments:

  1. Setiap kali aku baca tulisanmu aku pasti termotivasi PASTI. Dan juga ngerasa tertampar haha makasih banyak ya kak Atha dengan baik hati berbagi...tulisan tulisanmu semuanya keren banget aku seneng bisa menemukan blog ini yeeeay!! Keep on writing and inspiring me :-) btw yang bener ngalor-ngidul kak haha maklum orang jawa jadi tau deh hehehe tapi gak apa2 thats sooo cutee!!
    Salam kenal yaaaaa kak
    Your fan
    Siska :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Siska! Haha maaf ya kalau tertampar. Thank youu! Semoga aku inget buat nulis terus ya hehe.

      Delete
  2. Makasih kak atha. Aku dulunya 'pembaca buku'. Terus sama sekali ga pernah dan malah "ga bisa". Ga bisa itu bener2 kak, ada orang -kaya aku yang bener-bener ga bisa baca buku. Maksudnya baca "lama-lama". Kalo kepo semua orang kepo, cuma jenis nya beda2 mungkin :p. Maka untuk kami2 ini lebih suka baca headline aja dan subtitle, atau liatin status orang karena sebentar aja " waktu baca-nya". Well, mgkin buat kak atha, susah nerima penjelasan ini. *wkwkwk karna memang ga pernah mengalami. Tapi buat aku, paham banget yg ditulis di comment itu. *wkwkkw..

    Tapi tapi, aku tetep menjalankan cara-caranya yang ditulis di blog ini karena "ngerasa pengin baca buku lagi". Dan makasih kak Atha, itu sukses buat aku bisa baca 1 buku 174 halaman. Dan setelah "membaca buku" itu rasanya hmmm.. beda. Gitu deh. Hahaha. Tp makasih ya kak, semoga yg laen juga terinspirasi. :)

    ReplyDelete
  3. Oh Hi kak Atha. You are really awesome. Your writings inspire me a lot. Keep writing ! Anyway, may i know what kind of music u are usually listening to ?

    Regards,
    Your loyal Snapchat followers,
    FTY

    ReplyDelete