Bersekolah Tapi Tidak Berpendidikan?

Masyarakat publik–anda dan saya–memiliki kewajiban yang harus kita pikul bersama untuk memajukan pendidikan bangsa. Selain pemerintah dan guru, pihak-pihak yang sangat terkait dalam lingkup pendidikan adalah orang tua dan anak-anak. Masing-masing harus menyadari, mengingat, dan melaksanakan perannya dengan sebaik-baiknya.
Untuk orang tua, kemampuan bisa dikatagorisasikan menjadi dua: kemampuan untuk mendidik dan kemampuan untuk menyekolahkan. Kata “didik” dijabarkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai kata kerja yang memiliki arti untuk “memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran”. Mendidik seyogianya tidak selalu membutuhkan uang yang banyak. Melatih dan/atau mendidik memerlukan waktu dan energi. Banyak orang tua yang bisa menyekolahkan anaknya tetapi melupakan aspek ‘didik’. Mereka menyerahkan keseluruhan tanggung jawab mendidik anaknya kepada guru dan pemerintah tanpa mengambil peran dalam pertumbuhan anak sendiri.
Untuk anak, bertumbuh dalam era globalisasi adalah satu keuntungan yang besar. Akses informasi melalui medium semacam internet, televisi, dan lain sebagainya sudah menjadi sangat mudah. Sekarang pilihan ada di tangan sang anak, dan juga dengan bimbingan orang tuanya, untuk memilih apa yang akan ia cerna. Harus ada keseimbangan antara asupan yang mendidik dan yang menghibur. Sang anak pun juga harus mengambil tanggung jawabnya untuk belajar. Tidak semua kewajiban memilih ada di tangan orang tua. Anak yang sudah cukup umur untuk mengambil keputusannya sendiri harusnya bisa memilih untuk mendidik dirinya sendiri.
Secara umum, tanggung jawab dalam pendidikan dibagi menjadi dua: sistemik dan penerapan. Mayoritas tanggung jawab sistemik ada kepada pemerintah dan guru. Sementara mayoritas tanggung jawab penerapan ada di tangan orang tua dan anak-anak. Jika setiap bagian mengambil dan melaksanakan peran masing-masing dengan sebaik-baiknya, penyelesaian masalah pendidikan di Indonesia akan berjalan lebih cepat.


Cuplikan pendek dari goresan pena dalam buku catatan yang sepertinya harus pensiun sebentar lagi. (Agustus 2014)

4 comments:

  1. emang bnayak ya mbak yg sekolah tapi asal sekolah sedih T.T

    ReplyDelete
  2. Wah tulisannya bagus mbak Athalia. Tapi bukannya semakin banyak asupan informasi itu semakin membuat beban anak2 zaman sekarang makin berat ya. Sorry to say, masyarakat kebanyakan, dengan pendidikan sarjana saja kebanyakan kewalahan menyikapi informasi yg begitu banyak. Alhasil keputusan yg diambil gak baik. Bagaimana caranya anak diberikan tanggung jawab untuk mendidik diri kalau yang mendidik juga masib kewalahan?

    Saya pikir akses informasi yg massive untuk beberapa jenjang pendidikan malah akan memberi rugi banyak kepada edukasi teoretis dan aplikatif. Coba lihat informasi sekarang. Semuanya applikatif. Dampaknya adalah anak2 akan meniru sebab tahap berpikir mereka baru tahap meniru. Kalau smp dan sma, katakanlah sudah mulai bisa memahami, tapi realitanya ironis. Kaum muda sarjana yg paling terpuruk. Coba lihat permasalahan sosial kaum muda sekarang. Saya khawatir status pendidikan malah tidak berdampak signifikan pada pemrosesan informasi dan pemahamannya.

    Penerapan ada pada orang tua dan anak? Konsepnya benar, tetapi yang jadi masalah adalah quality controlnya. Bagaimana mungkin kita mengharapkan generasi muda memahami penerapan yg baik jika orang tua sendiri juga tidak menerapkan prinsip dengan baik. Solusi yang mungkin adalah melalui berbagi pengalaman. Namun ada resiko bahwa jika orang tua mengajar lewat pengalaman, anak akan terekspose pada pengalaman hidup orang tua yg jika tidak disikapi dengan baik oleh anak, bisa bisa terulang lagi pada anak itu.

    Jadi, ya ada baiknya orang2 dewasa sebaiknya sadar ttg kapasitasnya utk mendidik anaknya sebelum ia memutuskan utk benar benar mendidik anaknya dan menyerahkan anaknya utk dididik insttusi pendidikan.

    ReplyDelete
  3. Setuju sama komen anonymous di atas saya :p

    Saya pun tergelitik untuk bertanya keapada Athalia, menurut kamu, apa sih gunanya sekolah?

    ReplyDelete