I Write...

...things that matter to some, things that matter to none, and things that floats around my head when I am under the influence of things that makes my head go round, seperti segelas seduhan kopi instan yang ternyata ditolak habis-habisan oleh sistem badan gue. Goodness. But hey look, six drafts of ramblings are now safely tucked inside the Draft folder. And there goes my balance. Rrr. Should've stick with Coke. Note to self: no more cheeky coffee.

So high I can touch the sky,
Athalia Karima Yedida Soemarko

Biarkan Karya Yang Berbicara.

I did not wake up this morning feeling like P. Diddy nor did I wake up flawless like YoncĂ©. Gue cemberut sewaktu bangun. Kesal rasanya. The mistake was on my side though. Ketika bangun, bukannya menghadap yang Maha Kuasa berterima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk menghirup udara dan berkarya, gue malah sibuk mengutak-katik situs sosial media dan lain sebagainya. Sorry, Lord. My bad. Tanpa diundang, datanglah berita-berita hangat tentang apa yang terjadi malam tadi. Salah satu Rancangan Undang-Undang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan hasilnya... Ya begitu lah. Opini berterbangan kiri dan kanan; banyak yang menolak, ada yang mendukung, beberapa netral, yang lain apatis.

Gue menggeret kaki membawa diri masuk ke kamar mandi. I have to wake up happy if I were to survive the day. Okay. Mandi. And let's turn this frown upside down.

Memang lazim ketika dihadapkan dengan situasi seperti yang mendukakan hati, you cannot help feeling angry. And when you're angry, there's no telling what you can do (though usually I stay quiet, but then again that's me and not a million other user of social media in this country). Dalam dunia yang kian modern, makin banyak outlet yang bisa digunakan untuk mengutarakan opini. The thing is bagaimana caranya menyuarakan opinimu supaya menjadi suara yang menyemangatkan, menghantar, dan membawa perubahan dan bukan celotehan dangkal yang mengumbar emosi mengambarkan diri sebagain individu yang negatif apa lagi apatis.

Penyair, puisi yang ditulis oleh Wiji Thukul pada 19 Januari 1988, adalah salah satu puisi yang selalu mengingatkan gue untuk menuangkan rasa menjadi karya. Kata beliau,
"jika tak ada mesin tik
maka aku kan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!"
Penyair - Wiji Thukul 
Why write? Karena menulis adalah proses. Dengan menulis, emosi dan pikiran menjadi satu; meracik membuahkan sesuatu. Menulis bisa mencerminkan amarah, kesedihan, dan lain sebagainnya. Tulisan adalah karya. Biarkan karya yang berbicara. Plus I prefer writing above 140 characters. My fuse is not that short.

Salam,
Athalia Karima Yedida Soemarko

Cuplikan: Lain Mata, Lain Cerita.

Pertanyaan: Baru-baru ini kan kita denger nih ada kasus korupsi Ketua MK. Nah, anak muda banyak yang geram mendengar hal ini. Belum lagi, masih ada banyak kasus-kasus korupsi lain di Indonesia. Melihat fenomena ini, sepertinya rasa percaya “kebanyakan” anak muda terhadap pemerintah semakin surut. Bisa dibilang, makin banyak yang akan apatis dengan pemilihan presiden tahun depan. Bagaimana tanggapan lo terhadap mereka yang justru apatis ini?

Athalia Soemarko (AS): Kejadian seperti apa yang Indonesia hadapi dengan kasus Ketua Mahkamah Konstitusi beberapa waktu kemarin ini sebenarnya adalah hal yang tidak asing dalam ranah politik. Bukan hanya di Indonesia, banyak negara lain yang pernah mengalami kejadian dimana seorang pejabat dengan posisi yang tinggi jatuh karena satu atau dua hal yang negatif, termasuk korupsi. Ketika dihadapkan dengan kejadian seperti ini, yang menjadi titik penentuan, menurut gue, adalah sudut pandang. Sebagai pemuda Indonesia, adalah satu hal yang penting untuk kita mengetahui bagaimana cara melihat satu perstiwa, apalagi perstiwa yang bersangkutan dengan politik dan kenegaraan negara ini.
Korupsi dan lain sebagainya disorot langsung oleh media dan menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat. Lazim jika kita merasa bahwa apa yang negara kita miliki saat ini buruk. Sekarang mungkin buruk, tetapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Tidak masuk akal kalau dengan melihat sesuatu yang buruk, seorang individu memutuskan untuk menjadi apatis, apa lagi untuk mutlak tidak mau peduli atau mengadopsi mentalitas “bodo amat ga ada hubungannya dengan hidup gue” karena tersorotnya masalah-masalah tersebut. Sering kali mungkin mereka melihatnya begini “Oh, korupsi. Wah Indonesia bobrok! Untuk apa gue peduli dengan negara ini. Toh jadinya begitu-begitu saja.” Loh… Kok? Banyak yang sadar bahwa ada masalah, mengerti bahwa masalah harus diselesaikan, tapi tidak mau berkontribusi untuk mengambil bagian untuk menyelesaikan masalahnya.
Kondisi saat ini memang harus diakui banyak yang negatif dan dibawah rata-rata. Tapi masalah harus dihadapi, harus diperbaiki, harus diselesaikan. Beri solusi, jangan lari dan memutuskan untuk tidak peduli. Menjadi pahit, negatif, pasif dan apatis hanya akan menambah, bukan mengurangi–apa lagi menyelesaikan–masalah.

Cuplikan pendek dari wawancara tertulis dengan P.A., satu tahun sebelum pemilihan umum 2014. (November 2013)

If—

"If you can keep your head when all about you
    Are losing theirs and blaming it on you,
If you can trust yourself when all men doubt you,
    But make allowance for their doubting too;
If you can wait and not be tired by waiting,
    Or being lied about, don’t deal in lies,
Or being hated, don’t give way to hating,
    And yet don’t look too good, nor talk too wise:

If you can dream—and not make dreams your master;
    If you can think—and not make thoughts your aim;
If you can meet with Triumph and Disaster
    And treat those two impostors just the same;
If you can bear to hear the truth you’ve spoken
    Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your life to, broken,
    And stoop and build ’em up with worn-out tools:

If you can make one heap of all your winnings
    And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings
    And never breathe a word about your loss;
If you can force your heart and nerve and sinew
    To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
    Except the Will which says to them: ‘Hold on!’

If you can talk with crowds and keep your virtue,
    Or walk with Kings—nor lose the common touch,
If neither foes nor loving friends can hurt you,
    If all men count with you, but none too much;
If you can fill the unforgiving minute
    With sixty seconds’ worth of distance run,
Yours is the Earth and everything that’s in it,
    And—which is more—you’ll be a Man, my son!"


Rudyard Kipling was an English short-story writer, poet, and novelist.

Akar Masalahnya Adalah Penggunaan Kata yang (Menurut Gue) Salah.

"That's it. Gue mau pindah negara aja. This country is hopeless and helpless," gumam salah satu sahabat gue sambil membuka bungkusan besar berisi kentang goreng yang masih panas. Aroma semerbak dari our version of the healthiest food available at our favorite fast food restaurant dengan logika ya-udah-lah-kentang-kan-sayur menyebar dalam mobil. Gue diam, mengangkat satu alis dan tersenyum sinis. "Go ahead. Leave. Kapan mau berangkat?" Not exactly the response she expected. "Gitu?" tanyanya kaget selagi mengunyah terlalu banyak kentang dalam mulutnya. "You're not supposed to speak when chewing. Ga sopan and I don't see why you're shocked. Kan kalau mau ngobrol tinggal angkat telepon atau kirim pesan lewat begitu banyaknya aplikasi yang ada. Kalau mau ketemu, tinggal pesan tiket pesawat. Kalau ada niat ya pasti bisa lah. Susah banget. But going back to the main point though, why move?" tanya gue penasaran. "Capek," katanya sambil menghela nafas panjang.

Capek.

Sepertinya sudah sering anda dan saya mendengar segala sesuatu yang negatif tentang negeri tercinta ini. Berita dan kabar baik memang sekarang mulai bermunculan dan selalu ingat bahwa negara ini sangat indah dan beragam. Dua ratus lima puluh juta jiwa hidup dari Sabang sampai Merauke. Kebudayaan, kekayaan alam, bahasa dan lain sebagainya tidak tertandingi. Tapi... The word "but" or "tapi" always manage to diminish the positivity that was previously said, reminding us again and again that almost is never enough, so said Ariana Grande. Tapi ________ (insert negative word here). Indonesia sedang bertumbuh. Umurnya baru enam puluh sembilan tahun, termasuk muda dikalangan kawan-kawannya. Sama seperti seorang manusia, pertumbuhan ada pro dan kontranya, ada negatif dan positifnya, ada baik dan buruknya. Mengerti lah dan dukung lah pertumbuhan ini. Ubah apa yang buruk menjadi baik, dorong apa yang sudah baik untuk menjadi lebih baik.

"Apa sih capek-capek? Memang lo ngapain? Nyapu di Monas? Ngepel di Gambir? Ngapain? And, goodness, stop being so negative," timpal gue sambil membuka bungkus burger kedua. "I personally think the problem is well-rooted in the system of government. Yea sure yay new president. The chap on the highest seat might change but the human resource stays the same. Or whatever it is, or whoever it is, we will face on the ground. Itu loh. Bikin capek," katanya. " Oh. Jadi salahnya di mana?" tanya gue. I did not see her point still mungkin karena pulling out pickles from inside the cheeseburger was distracting me. "Gatau! Lo yang pikirin lah. Lo kan yang tukang mikir," tuduhnya. I have interesting friends. She was right though. I have actually thought about this. So I opened my mouth and start jabbering away, a habit which my nearest and dearest have gotten accustomed to.

Menurut gue, the root of the problem is the improper use of term. Or word, whichever. What word? Pemerintah.

"Memang! Gila ya. Pemerintah kita itu blahblah..." No, no. Not that. Bukan itu yang gue maksud. What I meant is the etymology of the word "pemerintah". Writing this made me nervous, by the way, karena gue bukan pakar bahasa - penggunaan kata gue aja terkadang masih kacau. Dan gue tahu betapa pedasnya komentar orang di dunia maya ketika mengkritik karya *tarik nafas dalam-dalam* but whatever. I'll just write what is in my head, birthed from a late night, junk food invested conversation.

Akar kata "pemerintah" adalah "perintah", I think. "Perintah" adalah kata benda yang diartikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia versi Daring (Dalam Jaringan, also known as "online") sebagai: (1) perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu; suruhan; (2) aba-aba; komando; (3) aturan dari pihak atas yang harus dilakukan.

"I don't get it," kata sahabat gue datar. Ya sebentar dong. Wong baru juga mulai bicara dan I do not operate well at 3 AM after gobbling down two burgers and a lot of fries. Wait a bit. Let me develop my thoughts. "Tapi kayanya this might just be the root of the problem," kata gue sambil mencoba menahan kantuk. Waktu menunjukan bahwa saat itu sudah menjelang subuh. Kami berdua pun pulang ke rumah masing-masing. I lay flat on my bed. Badan lelah tetapi otak masih belum menyerah. I think and think and think and think.

Okay. Let's do this. Kalau dibandingkan dengan bahasa lain... Google Translate menerjemahkan kata "pemerintah" sebagai "government". Oxford Dictionary menelusuri akar kata government dari the Old French word "governer", from Latin "gubernare" yang artinya 'to steer, rule' dan dari kata Yunani "kubernan" yang artinya juga adalah 'to steer'. The same dictionary define the verb "steer" as 'to guide or control'. A-ha.

Kenapa dibahas dari sudut pandang ini? Karena menurut gue, selain membentuk, bahasa juga menunjukan arah darimana persepsi atau pola pikir yang ada didapat. Pandangan yang ada dari masyarakat dan dari mereka yang duduk di kursi kekuasaan tentang pemerintah akan merujuk kepada cara pendekatan dan perlakuan. Basically why we sometimes think the government consists of obnoxious individuals and why they sometimes seem irritating when dealing with us might depend on the word we use to describe or label them.

Let's take it on a personal level. Ketika menerima suatu perintah, konotasinya apa? Orang yang memberi perintah memiliki posisi yang lebih tinggi dan, to a certain extent, ditakuti. Bukan dihormati? Nope. Alasan gue menghormati mereka yang duduk di kursi pejabat adalah karena mereka mendedikasikan waktu dan energi untuk mengabdi kepada negeri ini. Bukan karena mereka memerintah kanan dan kiri. Mereka yang menjabat dalam instansi negara juga harus menyadari bahwa mereka adalah public servant dan bukan tukang perintah-perintah. They are there to serve. Serve who? The country. Anda dan saya pun ada di negara ini untuk mengabdi tetapi tidak secara profesi seperti beliau-beliau yang kita hormati ini. Jadi untuk mereka yang kami hormati yang sudah dan akan membantu negeri ini maju, kata yang harusnya digunakan, menurut gue, bukan lah pemerintah. Kalau pun digunakan, pekerjaan yang dilakukan bukan tipe suruh-suruh.

This all is still very raw. A thought fleeting when the night turns to dawn.

Gue pun lambat laun lupa tentang pikiran ini. Sampai beberapa hari yang lalu lapar melanda di tengah malam. Telepon berdering dan before you know it we were sitting back in the parking lot of the fast food joint eating french fries. Sepertinya bau semerbak kentang goreng memercikan kembali ingatan gue tentang debat pemerintah, pemimpin, dan kesalahan penggunaan kata yang kami bahas lebih dari satu bulan yang lalu. "Eh, masih ingat ga how I told you that the word pemerintah is improper?" Sahabat gue mengangguk, mulut penuh dengan kentang. She is always hungrier than I am. "Kayanya untuk merubah pola pikir tentang pemerintah we got to stop using the term karena pada akhirnya beliau-beliau yang ada dalam posisi kenegaraan hanya ingat bahwa job description mereka adalah untuk memerintah, memberi perintah. Sepertinya ga ada tuh judul mengabdi, melayani, atau mempimpin. The leading part mungkin ada lah sedikit tapi the rest of it... Konsep itu foreign. Sepertinya jarang mereka mengingat bahwa mereka ada untuk membantu bangsa ini maju lebih lagi, menjadi pelayan publik. And really that's not a bad thing. I'd respect somebody who'd dedicate his or her life to serve this great country. They deserve the perks. If they serve the country. Jadi jawaban untuk keresahan dan kecapekan lo itu adalah dengan mengubah pola pikir. Pola pikir siapa? Dua-duanya, rakyat dan yang mengabdi. Dua-duanya harus ingat dan harus memiliki persepsi yang sama." She was still chewing; but nodding at the same time. "Jadi... Kata apa yang harus kita pakai untuk mengubah mentalitas yang ada?" tanyanya. Gue mulai menutup kaca jendela mobil, "Tau. Lo lah sekarang yang mikir. Can we pass by the martabak place? I want some sweet, high cholesterol lovin'."


I sincerely hope this made sense,
Athalia Karima Yedida Soemarko

Di Balik Karya Ada Cerita Cinta.

Fiksi muncul dari imajinasi. Berat rasanya beban kehidupan ketika berjalan menapak bumi. Tapi ketika berada di atas awan, tidak ada batasan. Buat gue, hal yang sama berlaku untuk imajinasi. Daya khayal yang dimiliki sejauh ini belum merambah ke aliran sekitar raksasa, hantu, dan lain sebagainya. My imagination falls on the border of reality. It could've been real but it is not. Kelabu, that's how I like it.

Cerita Rima Dida muncul ketika kepala gue penat dan kebetulan sedang berada di atas awan. Tidak semua yang gue tulis nyata. Beberapa hanya fiktif belaka. Dibuat oleh imajinasi, dirasa oleh bantin. Tercantum di bawah cuplikan beberapa halaman dari Cerita Rima Dida.

Di balik karya Rima Dida ada cerita cinta. 
Rima Dida muncul di tahun 2014, saat Athalia berumur dua puluh dua tahun. Ia baru menyelesaikan studinya dan sedang menyiapkan diri untuk mulai melamar pekerjaan. Semasa kuliah, ia menjunjung ilmu di bidang hukum. Dan berhasil. Lulus dalam waktu empat tahun dengan sejarah yang tidak mengecewakan juga. Tapi jiwanya ranyah, tak bisa diam. 
Selama 22 tahun terkahir ini Athalia dikenal oleh sahabat-sahabatnya sebagai seorang individu yang dalam dan tidak mudah terpengaruh. Individu yang logis dan tidak mungkin berbuat sesuatu yang bodoh. 
Athalia mengerti baik siapa dirinya. Tetapi ia merasa tidak bebas. Dua dari empat kata yang tersirat dalam namanya – Athalia Soemarko – berat untuk dipikul dan seperti sudah memiliki identitasnya sendiri. Kalau Athalia sendiri harus menggambarkan Athalia Soemarko dengan hanya tiga kata, sepertinya yang akan muncul adalah: logis, bijak, dan… tua. 
Tua. 
Seorang Athalia Soemarko menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia terlalu matang untuk anak seumurannya. Pemikirannya terlalu jauh. Sulit untuknya untuk menjadi muda, selalu ada halangan–salah satu yang paling sering membuat masalah adalah pikirannya sendiri. Ini semua berakar dari cara ia dibesarkan, latar belakang keluarganya.  
Kedua orang tua berilmu, sarjana strata dua, lulusan luar negeri. Ibu dari Athalia adalah seorang yang sangat disiplin. Cerdas bukan main. Ia berasal dari keluarga berada dengan sejarah pendidikan yang sangat padat berisi. Ayahnya adalah seorang bankir yang pintar dan sukses, memanjat tangga karir dengan kejujuran dan integritas. Cara mereka membesarkan Athalia pun tidak keras ataupun kaku. Tetapi rapih. Ia selalu diperlakukan baknya seorang dewasa. Athalia tumbuh dalam suasana tersebut. Tanpa disadari, ia meresap semua kedewasaan yang mengelilinginya dan menjadi tua sebelum waktunya. 
Athalia tidak mengeluh dan ia mengerti bahwa semua ini baik. Ia tahu betul bahwa banyak yang iri dengan lingkungan di mana ia tumbuh. Seimbang. Semuanya seimbang. Tidak ada yang liar, tidak ada yang berantakan. Semua ada tempatnya. 
Tetapi Athalia tahu di dalam dirinya ada jiwa seniman yang meronta mau keluar untuk bebas. Sudah lebih dari satu tahun ia berpikir keras bagaimana cara mengeluarkan hasrat berseni ini. “Aku tidak bisa berkarya sebagai seorang Athalia Soemarko,” gumamnya. “Karyaku akan terlalu kaku dan tua. Karyaku tidak akan pernah bebas. Karyaku tidak bisa lahir hanya dari seorang Athalia Soemarko.” Lagi pula dunia sudah mengenal Athalia Soemarko bukan sebagai seorang seniman atau orang yang bisa mendekat ke dunia seni. Akan sulit untuk maju. Dia sebenarnya tidak peduli dengan apa yang orang lain pandang. Tetapi jika seseorang sudah dipandang dengan satu kacamata, sulit untuk mengubah cara pikirnya. All she wants is a blank canvas. 
Di Januari 2014, selagi merenung di samping kolam renangnya, ia mendapat ilham. Ia akan menyamar. Bukan menjadi orang lain, tapi memperlihatkan sisi seorang Athalia Soemarko tanpa membawa nama Athalia Soemarko. Dengan demikian, ia tidak harus merelekan persona seorang Athalia Soemarko–yang nan bijak dan tak akan pernah berbuat sesuatu tanpa berpikir matang–untuk bebas berkarya. “…seperti membuka anak perusahaan.” Nah kan. Terlalu dewasa. 
Athalia mengerti betul bahwa ia hidup ditengah generasi yang image-oriented. Generasi ini menaruh prioritas kepada penampilan. Skin-deep, itu kata yang tepat untuk melukiskan masa sekitar 2010 keatas. Tidak ada yang perlu tahu siapa seniman baru ini. Yang penting mereka kenal karyanya. Cukup itu saja. Seniman ini akan menjadi seniman dengan karya yang dalam tapi publik hanya akan mengenalnya juga dengan skin-deep. Toh di dunia yang hanya membaca tulisan dengan 140 huruf dan melihat hasil jepretan dari satu situs sosial media, tidak akan ada yang mencari lebih jauh. Mereka akan hanya perduli dengan tampilan, sedikit tulisan, dan nama. 

Ada dua kata dalam namanya yang tak pernah tersentuh–Karima Yedida, nama tengahnya. “Terlalu kentara kalau memakai Karima Yedida sebagai samaran… Lagi pula Karima Yedida tidak terlalu nyeni kesannya. Masih kaku.” Disaat itu lah lahir nama Rima Dida. Nama samaran seorang Athalia Soemarko yang akan menjadi mimbar untuknya berseni, menjadi bebas. 
Kalau diusut, dalam Bahasa Inggris ‘rima’ adalah terminologi anatomi yang dipakai untuk menggambarakan bukaan sempit dan memanjang. ‘Rima’ juga adalah celah diantara dua bagian simetris. Dalam bahasa Spanyol, nama ‘Rima’ diambil dari kata Perancis kuno yang berarti sajak, cerita, atau kisah. Sementara ‘Dida’ ternyata adalah nama dari Swedia yang berarti kaya dalam perang dan karunia dari Yang Maha Esa. 
“Not bad… Not bad at all,” pikir Athalia. Rima Dida, sang seniman, bagian dari Athalia Soemarko yang tidak perlu orang tahu.
Fakta atau fiksi, siapa yang tahu. Selamat berimajinasi.

Salam,
Athalia Karima Yedida Soemarko

Jengkel-Jengkel Cinta.

Gemas (kata sifat) yang artinya "sangat suka bercampur jengkel; jengkel-jengkel cinta". Hngg... Oke sip.

Masa transisi mungkin adalah masa yang paling tidak nyaman yang pernah gue rasakan selama hidup dua puluh tiga tahun di bawah matahari. Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana, rasanya dunia adalah tempat yang sangat amat luas. It did not scare me but I did feel lost; and I do not like the feeling.

Gue tersenyum sembari mengakomodir ucapan selamat dari orang-orang terdekat. "Masa depan pasti cerah! Oh, the things you will do! Selamat menempuh hidup baru!" Oy vey. Little did they know that I was bloody nervous. Gue lebih deg-degan setelah selesai sidang daripada sewaktu sebelum sidang. I smiled, trying to quell whatever is going on inside my head and quickly dashed to a bookstore after the crowd dispersed. I want to buy a map. Malu bertanya, sesat di jalan. Katanya. Tapi menurut gue, kalau nyasar atau belum tahu tempat tujuan, ya, beli peta. So I bought a map, a map of the world. Ada segelintir harapan bahwa it might actually give some sense of bearing, at least in answering the question "Where to go now?". Dora the Explorer consulted her talking map when she gets lost. I packed and went to the car to head back home. I cannot wait to unroll the map and see the world. Unlike Dora's, my map cannot talk but it will probably show me the places to go. It might. I sat at the corner of my room, stare at the visual of this planet we call home, and I felt nothing. No flicker of light, no X mark. Nothing. My map is not showing me the way. At that point, I knew I'm screwed.

That happened almost a year ago.

Hampir genap dua belas bulan gue terlepas dari sistem pendidikan. It was (and still is) the weirdest feeling I've felt in years. Bayangkan, biasanya setelah lulus kelas, lo pasti sudah tahu langkah selanjutnya. Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar bergulir begitu saja. If you do what you're supposed to do, pasti naik kelas. Nonot much is probably a better phrasethinking is required. Sekolah Menengah Pertama pelajaran mulai lebih menantang. Kalau bisa menyeimbangkan antara cakap, pintar, dan rajin, ya, pasti akan naik jenjang ke kelas satu Sekolah Menengah Atas dengan mudah. Ketika duduk di bangku SMA, hal yang menentukan mungkin adalah dimana mau menuntut ilmu selanjutnya. You move from system to system. Tetapi sistem tersebut pada waktunya akan berakhir. Your life is no longer outlined. You will have to make your own decisions; and bear your own consequences.

"Kyaaa!" adalah reaksi yang tepat untuk memulai langkah pertama menjadi dewasa. Now what? 

"Susan, Susan, Susan. Besok gede, mau jadi apa?" tanya Ria Enes kepada Susan, boneka kecil yang menurut gue agak menyeramkan. "Aku kepingin pinter biar jadi dokter," jawab Susan. Sepertinya Susan tidak mengerti bahwa sebenarnya modal pintar saja tidak cukup untuk bisa menjadi dokter. Or anything in life at this point in time. (Sebenarnya cukup untuk menyelesaikan tuntutan akademis but life requires so much more than just your high IQ. Somebody should probably tell this to Susan.)

Mungkin itu adalah masalah terbesar gue setelah lulus kuliah. I feel small. I feel very, very small. I feel that I do not have enough. Aneh rasanya. Umur sudah jauh lebih banyak dari Susan si Boneka tapi keberanian tidak lebih besar dari tubuh mungilnya. Selalu ada suara di belakang kepala "Sudah lah. Mimpi jangan muluk-muluk..." Padahal bukan kah lebih wajar jika dengan bertambahnya umur, bertambah lah juga mimpi-mimpi kita? Loh tapi ini kenapa jadi makin ciut hati dan sekarang sepertinya membeli peta dunia adalah langkah yang salah. Terlihat jelas bahwa dunia besar dan luas. Memiliki lebih dari tujuh miliar penduduk dan di antara bermiliar-miliar manusia tersebut hidup lah seorang Athalia yang tinggi dan kurus. That's not a comforting thought. Lalu sekarang mau apa? Mengejar kebahagiaan? Dengan cara apa? Menjadi kaya? Mencari uang? Menaiki tangga karir? That's it?

Setelah belajar lebih dari dua belas tahun, gue mengerti sedikit banyak tentang teori seputar apa yang gue pelajari. But I do not think I know me. Being taken out of a system forces you to think for yourself.  Tidak ada lagi orang yang menentukan prioritas atau keputusan. You're on your own. This, my friend, is freedom.

Jadi sekarang bagaimana? Kebebasan sudah ditangan. Sekarang apa? Mau takut sampai kapan?Selamanya? Goodness, no. So I sit and think and think and think and these three points are what I manage to come up with.

  • BERDIRI SENDIRI. Keindahan hidup ini seyogyanya mulai dari diri sendiri. Secara sistemik sebenarnya konsep yang kita pelajari waktu sekolah benar. Dari satu orang lalu menjadi keluarga, Rukun Tetangga, Rukun Warga, kelurahan, kecamatan, kotamadya, dan lain sebagainya. Jika sebagai individu kita tidak menggali bakat dan keunikan pribadi, kacau lah semuanya, kawan. Lo ga bahagia, keluarga lo ga bahagia, Rukun Tetangga lo ga bahagia, Rukun Warga lo ga bahagia... Ngerti kan maksudnya? Maka dari itu, I knew I had to learn on discover myselfnot in a nasty way, mind yousupaya gue bisa memulai rantai kebahagiaan. Tidak mudah berdiri sendiri, apa lagi kalau lagi sedih. Rasanya harus berbagi, "curhat" kalau kata kebanyakan orang Indonesia, curahan hati. Mungkin ini adalah alasan kenapa banyak sekali yang tidak suka menjadi orang single. Tapi ayo lah. Sendiri berani. Nanti kalau sudah berdua baru sehidup semati.

  • MEMBERI DIRI. Menurut gue, cara termudah untuk mengetahui sebenarnya apa saja yang ada di dalam diri lo adalah dengan memberi. Some might think, traveling is the way to go! You discover yourself when you take yourself out from a country. Betul. Namun kalau pergi lalu tempat tujuannya nyaman stardar wisatawan, I do not think you'd be able to measure yourself. Dengan demikian, gue memutuskan untuk mengajar and, oh boy, did I learn... Mengajar adalah proses menyalurkan ilmu atau pengetahuan yang ada di dalam seseorang untuk dimultiplikasikan dan dicurahkan kepada para pendengarnya, be it adults or children. Ketika orang mendengar anda berbicara di depan dan mengajar, seluruh jiwa dan raga harus tenang karena kalau tidak, ya, yang mendengar akan kebingungan. Garbage in, garbage out katanya. Jika yang diberikan sang pengajar tersebut adalah sampah, yang ia konsumsi pun pasti tidak berkualitas baik. Hati-hati apa yang dikonsumsi, untuk belajar atau pun hiburan. Kid President, on Youtube, once said that "No matter who you are, somebody is learning from you." Jadi jangan mengira bahwa lo harus mendedikasikan waktu untuk mengajar. Tidak. Ketika kamu dan saya bercengkrama dengan lawan bicara pun you would either be the student or the teacher. If you are the teacher, what do you teach? What will you give to other people? Positive or negative impact?

  • BERGERAK BERSAMA. I would like tell you straight to your face that, darling, you are not amazing just the way you are. Bruno Mars did not think the lyrics through. Masih banyak yang harus diperbaiki dari anda dan saya. Kita ga baik-baik banget. Untuk menjadi lebih baik, dibutuhkan orang yang berani mengoreksi dan mengkritik dan dibutuhkan orang yang mau untuk dikoreksi dan kritik. Bergerak harus bersama.

Ketika keluar dari sistem, gue harus membangun kehidupan sendiri. Apa yang gue dapat dari tahun-tahun dimana gue duduk dibangku sekolah ternyata adalah bahan dasar konstruksi untuk proses ini. Maka dari itu gue sering gemas melihat orang-orang yang malas atau pun hidup tanpa niat untuk menjadi lebih baik. I love you, I do. But you need to get better. You. And me. Tapi sendiri-sendiri. Make your "bad" to be "better", your "good" to become your "best". Tidak mudah tapi pasti bisa. Ayo lah.

Salam dari yang gemas,
Athalia Karima Yedida Soemarko