Di Balik Karya Ada Cerita Cinta.

Fiksi muncul dari imajinasi. Berat rasanya beban kehidupan ketika berjalan menapak bumi. Tapi ketika berada di atas awan, tidak ada batasan. Buat gue, hal yang sama berlaku untuk imajinasi. Daya khayal yang dimiliki sejauh ini belum merambah ke aliran sekitar raksasa, hantu, dan lain sebagainya. My imagination falls on the border of reality. It could've been real but it is not. Kelabu, that's how I like it.

Cerita Rima Dida muncul ketika kepala gue penat dan kebetulan sedang berada di atas awan. Tidak semua yang gue tulis nyata. Beberapa hanya fiktif belaka. Dibuat oleh imajinasi, dirasa oleh bantin. Tercantum di bawah cuplikan beberapa halaman dari Cerita Rima Dida.

Di balik karya Rima Dida ada cerita cinta. 
Rima Dida muncul di tahun 2014, saat Athalia berumur dua puluh dua tahun. Ia baru menyelesaikan studinya dan sedang menyiapkan diri untuk mulai melamar pekerjaan. Semasa kuliah, ia menjunjung ilmu di bidang hukum. Dan berhasil. Lulus dalam waktu empat tahun dengan sejarah yang tidak mengecewakan juga. Tapi jiwanya ranyah, tak bisa diam. 
Selama 22 tahun terkahir ini Athalia dikenal oleh sahabat-sahabatnya sebagai seorang individu yang dalam dan tidak mudah terpengaruh. Individu yang logis dan tidak mungkin berbuat sesuatu yang bodoh. 
Athalia mengerti baik siapa dirinya. Tetapi ia merasa tidak bebas. Dua dari empat kata yang tersirat dalam namanya – Athalia Soemarko – berat untuk dipikul dan seperti sudah memiliki identitasnya sendiri. Kalau Athalia sendiri harus menggambarkan Athalia Soemarko dengan hanya tiga kata, sepertinya yang akan muncul adalah: logis, bijak, dan… tua. 
Tua. 
Seorang Athalia Soemarko menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia terlalu matang untuk anak seumurannya. Pemikirannya terlalu jauh. Sulit untuknya untuk menjadi muda, selalu ada halangan–salah satu yang paling sering membuat masalah adalah pikirannya sendiri. Ini semua berakar dari cara ia dibesarkan, latar belakang keluarganya.  
Kedua orang tua berilmu, sarjana strata dua, lulusan luar negeri. Ibu dari Athalia adalah seorang yang sangat disiplin. Cerdas bukan main. Ia berasal dari keluarga berada dengan sejarah pendidikan yang sangat padat berisi. Ayahnya adalah seorang bankir yang pintar dan sukses, memanjat tangga karir dengan kejujuran dan integritas. Cara mereka membesarkan Athalia pun tidak keras ataupun kaku. Tetapi rapih. Ia selalu diperlakukan baknya seorang dewasa. Athalia tumbuh dalam suasana tersebut. Tanpa disadari, ia meresap semua kedewasaan yang mengelilinginya dan menjadi tua sebelum waktunya. 
Athalia tidak mengeluh dan ia mengerti bahwa semua ini baik. Ia tahu betul bahwa banyak yang iri dengan lingkungan di mana ia tumbuh. Seimbang. Semuanya seimbang. Tidak ada yang liar, tidak ada yang berantakan. Semua ada tempatnya. 
Tetapi Athalia tahu di dalam dirinya ada jiwa seniman yang meronta mau keluar untuk bebas. Sudah lebih dari satu tahun ia berpikir keras bagaimana cara mengeluarkan hasrat berseni ini. “Aku tidak bisa berkarya sebagai seorang Athalia Soemarko,” gumamnya. “Karyaku akan terlalu kaku dan tua. Karyaku tidak akan pernah bebas. Karyaku tidak bisa lahir hanya dari seorang Athalia Soemarko.” Lagi pula dunia sudah mengenal Athalia Soemarko bukan sebagai seorang seniman atau orang yang bisa mendekat ke dunia seni. Akan sulit untuk maju. Dia sebenarnya tidak peduli dengan apa yang orang lain pandang. Tetapi jika seseorang sudah dipandang dengan satu kacamata, sulit untuk mengubah cara pikirnya. All she wants is a blank canvas. 
Di Januari 2014, selagi merenung di samping kolam renangnya, ia mendapat ilham. Ia akan menyamar. Bukan menjadi orang lain, tapi memperlihatkan sisi seorang Athalia Soemarko tanpa membawa nama Athalia Soemarko. Dengan demikian, ia tidak harus merelekan persona seorang Athalia Soemarko–yang nan bijak dan tak akan pernah berbuat sesuatu tanpa berpikir matang–untuk bebas berkarya. “…seperti membuka anak perusahaan.” Nah kan. Terlalu dewasa. 
Athalia mengerti betul bahwa ia hidup ditengah generasi yang image-oriented. Generasi ini menaruh prioritas kepada penampilan. Skin-deep, itu kata yang tepat untuk melukiskan masa sekitar 2010 keatas. Tidak ada yang perlu tahu siapa seniman baru ini. Yang penting mereka kenal karyanya. Cukup itu saja. Seniman ini akan menjadi seniman dengan karya yang dalam tapi publik hanya akan mengenalnya juga dengan skin-deep. Toh di dunia yang hanya membaca tulisan dengan 140 huruf dan melihat hasil jepretan dari satu situs sosial media, tidak akan ada yang mencari lebih jauh. Mereka akan hanya perduli dengan tampilan, sedikit tulisan, dan nama. 

Ada dua kata dalam namanya yang tak pernah tersentuh–Karima Yedida, nama tengahnya. “Terlalu kentara kalau memakai Karima Yedida sebagai samaran… Lagi pula Karima Yedida tidak terlalu nyeni kesannya. Masih kaku.” Disaat itu lah lahir nama Rima Dida. Nama samaran seorang Athalia Soemarko yang akan menjadi mimbar untuknya berseni, menjadi bebas. 
Kalau diusut, dalam Bahasa Inggris ‘rima’ adalah terminologi anatomi yang dipakai untuk menggambarakan bukaan sempit dan memanjang. ‘Rima’ juga adalah celah diantara dua bagian simetris. Dalam bahasa Spanyol, nama ‘Rima’ diambil dari kata Perancis kuno yang berarti sajak, cerita, atau kisah. Sementara ‘Dida’ ternyata adalah nama dari Swedia yang berarti kaya dalam perang dan karunia dari Yang Maha Esa. 
“Not bad… Not bad at all,” pikir Athalia. Rima Dida, sang seniman, bagian dari Athalia Soemarko yang tidak perlu orang tahu.
Fakta atau fiksi, siapa yang tahu. Selamat berimajinasi.

Salam,
Athalia Karima Yedida Soemarko

7 comments:

  1. Ini... persis sekali dengan apa yang ada di otak saya saat melihat kamu :|

    ReplyDelete
  2. Haha tapi kan ini karya bukan fakta. Jadi… Hehe.

    ReplyDelete
  3. Atha, tulisannya bagus..:) ada beberapa tulisan yg typo, tp ide nya oke banget. Keep writing ya..:)

    ReplyDelete
  4. nama pena yang sangat bagus. menggambil nama sendiri, tapi tetap beda. semoga hasil karyanya akan se 'apik' namanya. good luck!

    ReplyDelete
  5. ah kak atha ternyataaaa :')
    teruslah berkesenian ! <3

    ReplyDelete
  6. "Rima Dida, sang seniman, bagian dari Athalia Soemarko yang tidak perlu orang tahu." Tapi ditulis di blog. Lucu juga :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya. I'd use another name kalau ga mager cari nama yang enak diplesetin. Karena kebetulan lagi ga niat mikir jauh-jauh, pakai nama sendiri deh. It's fiction. This doesn't mean I'm Rima Dida ehehe.

      Delete