Cuplikan: Lain Mata, Lain Cerita.

Pertanyaan: Baru-baru ini kan kita denger nih ada kasus korupsi Ketua MK. Nah, anak muda banyak yang geram mendengar hal ini. Belum lagi, masih ada banyak kasus-kasus korupsi lain di Indonesia. Melihat fenomena ini, sepertinya rasa percaya “kebanyakan” anak muda terhadap pemerintah semakin surut. Bisa dibilang, makin banyak yang akan apatis dengan pemilihan presiden tahun depan. Bagaimana tanggapan lo terhadap mereka yang justru apatis ini?

Athalia Soemarko (AS): Kejadian seperti apa yang Indonesia hadapi dengan kasus Ketua Mahkamah Konstitusi beberapa waktu kemarin ini sebenarnya adalah hal yang tidak asing dalam ranah politik. Bukan hanya di Indonesia, banyak negara lain yang pernah mengalami kejadian dimana seorang pejabat dengan posisi yang tinggi jatuh karena satu atau dua hal yang negatif, termasuk korupsi. Ketika dihadapkan dengan kejadian seperti ini, yang menjadi titik penentuan, menurut gue, adalah sudut pandang. Sebagai pemuda Indonesia, adalah satu hal yang penting untuk kita mengetahui bagaimana cara melihat satu perstiwa, apalagi perstiwa yang bersangkutan dengan politik dan kenegaraan negara ini.
Korupsi dan lain sebagainya disorot langsung oleh media dan menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat. Lazim jika kita merasa bahwa apa yang negara kita miliki saat ini buruk. Sekarang mungkin buruk, tetapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Tidak masuk akal kalau dengan melihat sesuatu yang buruk, seorang individu memutuskan untuk menjadi apatis, apa lagi untuk mutlak tidak mau peduli atau mengadopsi mentalitas “bodo amat ga ada hubungannya dengan hidup gue” karena tersorotnya masalah-masalah tersebut. Sering kali mungkin mereka melihatnya begini “Oh, korupsi. Wah Indonesia bobrok! Untuk apa gue peduli dengan negara ini. Toh jadinya begitu-begitu saja.” Loh… Kok? Banyak yang sadar bahwa ada masalah, mengerti bahwa masalah harus diselesaikan, tapi tidak mau berkontribusi untuk mengambil bagian untuk menyelesaikan masalahnya.
Kondisi saat ini memang harus diakui banyak yang negatif dan dibawah rata-rata. Tapi masalah harus dihadapi, harus diperbaiki, harus diselesaikan. Beri solusi, jangan lari dan memutuskan untuk tidak peduli. Menjadi pahit, negatif, pasif dan apatis hanya akan menambah, bukan mengurangi–apa lagi menyelesaikan–masalah.

Cuplikan pendek dari wawancara tertulis dengan P.A., satu tahun sebelum pemilihan umum 2014. (November 2013)

3 comments:

  1. Atha! This is P.A writing... Ini bukan Juli 2013 Tha, tapi November. Seneng banget akhirnya malah banyak yang ikut pemilihan umum :)

    ReplyDelete
  2. Oh! Haha sudah terbitkah hasil wawancaranya? Thanks for the notice. I'll change the date hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boro-boro Tha.. satu angkatan dibatalin penerbitannya. Nggak ada yang protes, jadi... hanya menambah nilai di transkrip semester 5 saja. Ha ha

      Delete