Biarkan Karya Yang Berbicara.

I did not wake up this morning feeling like P. Diddy nor did I wake up flawless like Yoncé. Gue cemberut sewaktu bangun. Kesal rasanya. The mistake was on my side though. Ketika bangun, bukannya menghadap yang Maha Kuasa berterima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk menghirup udara dan berkarya, gue malah sibuk mengutak-katik situs sosial media dan lain sebagainya. Sorry, Lord. My bad. Tanpa diundang, datanglah berita-berita hangat tentang apa yang terjadi malam tadi. Salah satu Rancangan Undang-Undang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan hasilnya... Ya begitu lah. Opini berterbangan kiri dan kanan; banyak yang menolak, ada yang mendukung, beberapa netral, yang lain apatis.

Gue menggeret kaki membawa diri masuk ke kamar mandi. I have to wake up happy if I were to survive the day. Okay. Mandi. And let's turn this frown upside down.

Memang lazim ketika dihadapkan dengan situasi seperti yang mendukakan hati, you cannot help feeling angry. And when you're angry, there's no telling what you can do (though usually I stay quiet, but then again that's me and not a million other user of social media in this country). Dalam dunia yang kian modern, makin banyak outlet yang bisa digunakan untuk mengutarakan opini. The thing is bagaimana caranya menyuarakan opinimu supaya menjadi suara yang menyemangatkan, menghantar, dan membawa perubahan dan bukan celotehan dangkal yang mengumbar emosi mengambarkan diri sebagain individu yang negatif apa lagi apatis.

Penyair, puisi yang ditulis oleh Wiji Thukul pada 19 Januari 1988, adalah salah satu puisi yang selalu mengingatkan gue untuk menuangkan rasa menjadi karya. Kata beliau,
"jika tak ada mesin tik
maka aku kan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!"
Penyair - Wiji Thukul 
Why write? Karena menulis adalah proses. Dengan menulis, emosi dan pikiran menjadi satu; meracik membuahkan sesuatu. Menulis bisa mencerminkan amarah, kesedihan, dan lain sebagainnya. Tulisan adalah karya. Biarkan karya yang berbicara. Plus I prefer writing above 140 characters. My fuse is not that short.

Salam,
Athalia Karima Yedida Soemarko

No comments:

Post a Comment