Akar Masalahnya Adalah Penggunaan Kata yang (Menurut Gue) Salah.

"That's it. Gue mau pindah negara aja. This country is hopeless and helpless," gumam salah satu sahabat gue sambil membuka bungkusan besar berisi kentang goreng yang masih panas. Aroma semerbak dari our version of the healthiest food available at our favorite fast food restaurant dengan logika ya-udah-lah-kentang-kan-sayur menyebar dalam mobil. Gue diam, mengangkat satu alis dan tersenyum sinis. "Go ahead. Leave. Kapan mau berangkat?" Not exactly the response she expected. "Gitu?" tanyanya kaget selagi mengunyah terlalu banyak kentang dalam mulutnya. "You're not supposed to speak when chewing. Ga sopan and I don't see why you're shocked. Kan kalau mau ngobrol tinggal angkat telepon atau kirim pesan lewat begitu banyaknya aplikasi yang ada. Kalau mau ketemu, tinggal pesan tiket pesawat. Kalau ada niat ya pasti bisa lah. Susah banget. But going back to the main point though, why move?" tanya gue penasaran. "Capek," katanya sambil menghela nafas panjang.

Capek.

Sepertinya sudah sering anda dan saya mendengar segala sesuatu yang negatif tentang negeri tercinta ini. Berita dan kabar baik memang sekarang mulai bermunculan dan selalu ingat bahwa negara ini sangat indah dan beragam. Dua ratus lima puluh juta jiwa hidup dari Sabang sampai Merauke. Kebudayaan, kekayaan alam, bahasa dan lain sebagainya tidak tertandingi. Tapi... The word "but" or "tapi" always manage to diminish the positivity that was previously said, reminding us again and again that almost is never enough, so said Ariana Grande. Tapi ________ (insert negative word here). Indonesia sedang bertumbuh. Umurnya baru enam puluh sembilan tahun, termasuk muda dikalangan kawan-kawannya. Sama seperti seorang manusia, pertumbuhan ada pro dan kontranya, ada negatif dan positifnya, ada baik dan buruknya. Mengerti lah dan dukung lah pertumbuhan ini. Ubah apa yang buruk menjadi baik, dorong apa yang sudah baik untuk menjadi lebih baik.

"Apa sih capek-capek? Memang lo ngapain? Nyapu di Monas? Ngepel di Gambir? Ngapain? And, goodness, stop being so negative," timpal gue sambil membuka bungkus burger kedua. "I personally think the problem is well-rooted in the system of government. Yea sure yay new president. The chap on the highest seat might change but the human resource stays the same. Or whatever it is, or whoever it is, we will face on the ground. Itu loh. Bikin capek," katanya. " Oh. Jadi salahnya di mana?" tanya gue. I did not see her point still mungkin karena pulling out pickles from inside the cheeseburger was distracting me. "Gatau! Lo yang pikirin lah. Lo kan yang tukang mikir," tuduhnya. I have interesting friends. She was right though. I have actually thought about this. So I opened my mouth and start jabbering away, a habit which my nearest and dearest have gotten accustomed to.

Menurut gue, the root of the problem is the improper use of term. Or word, whichever. What word? Pemerintah.

"Memang! Gila ya. Pemerintah kita itu blahblah..." No, no. Not that. Bukan itu yang gue maksud. What I meant is the etymology of the word "pemerintah". Writing this made me nervous, by the way, karena gue bukan pakar bahasa - penggunaan kata gue aja terkadang masih kacau. Dan gue tahu betapa pedasnya komentar orang di dunia maya ketika mengkritik karya *tarik nafas dalam-dalam* but whatever. I'll just write what is in my head, birthed from a late night, junk food invested conversation.

Akar kata "pemerintah" adalah "perintah", I think. "Perintah" adalah kata benda yang diartikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia versi Daring (Dalam Jaringan, also known as "online") sebagai: (1) perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu; suruhan; (2) aba-aba; komando; (3) aturan dari pihak atas yang harus dilakukan.

"I don't get it," kata sahabat gue datar. Ya sebentar dong. Wong baru juga mulai bicara dan I do not operate well at 3 AM after gobbling down two burgers and a lot of fries. Wait a bit. Let me develop my thoughts. "Tapi kayanya this might just be the root of the problem," kata gue sambil mencoba menahan kantuk. Waktu menunjukan bahwa saat itu sudah menjelang subuh. Kami berdua pun pulang ke rumah masing-masing. I lay flat on my bed. Badan lelah tetapi otak masih belum menyerah. I think and think and think and think.

Okay. Let's do this. Kalau dibandingkan dengan bahasa lain... Google Translate menerjemahkan kata "pemerintah" sebagai "government". Oxford Dictionary menelusuri akar kata government dari the Old French word "governer", from Latin "gubernare" yang artinya 'to steer, rule' dan dari kata Yunani "kubernan" yang artinya juga adalah 'to steer'. The same dictionary define the verb "steer" as 'to guide or control'. A-ha.

Kenapa dibahas dari sudut pandang ini? Karena menurut gue, selain membentuk, bahasa juga menunjukan arah darimana persepsi atau pola pikir yang ada didapat. Pandangan yang ada dari masyarakat dan dari mereka yang duduk di kursi kekuasaan tentang pemerintah akan merujuk kepada cara pendekatan dan perlakuan. Basically why we sometimes think the government consists of obnoxious individuals and why they sometimes seem irritating when dealing with us might depend on the word we use to describe or label them.

Let's take it on a personal level. Ketika menerima suatu perintah, konotasinya apa? Orang yang memberi perintah memiliki posisi yang lebih tinggi dan, to a certain extent, ditakuti. Bukan dihormati? Nope. Alasan gue menghormati mereka yang duduk di kursi pejabat adalah karena mereka mendedikasikan waktu dan energi untuk mengabdi kepada negeri ini. Bukan karena mereka memerintah kanan dan kiri. Mereka yang menjabat dalam instansi negara juga harus menyadari bahwa mereka adalah public servant dan bukan tukang perintah-perintah. They are there to serve. Serve who? The country. Anda dan saya pun ada di negara ini untuk mengabdi tetapi tidak secara profesi seperti beliau-beliau yang kita hormati ini. Jadi untuk mereka yang kami hormati yang sudah dan akan membantu negeri ini maju, kata yang harusnya digunakan, menurut gue, bukan lah pemerintah. Kalau pun digunakan, pekerjaan yang dilakukan bukan tipe suruh-suruh.

This all is still very raw. A thought fleeting when the night turns to dawn.

Gue pun lambat laun lupa tentang pikiran ini. Sampai beberapa hari yang lalu lapar melanda di tengah malam. Telepon berdering dan before you know it we were sitting back in the parking lot of the fast food joint eating french fries. Sepertinya bau semerbak kentang goreng memercikan kembali ingatan gue tentang debat pemerintah, pemimpin, dan kesalahan penggunaan kata yang kami bahas lebih dari satu bulan yang lalu. "Eh, masih ingat ga how I told you that the word pemerintah is improper?" Sahabat gue mengangguk, mulut penuh dengan kentang. She is always hungrier than I am. "Kayanya untuk merubah pola pikir tentang pemerintah we got to stop using the term karena pada akhirnya beliau-beliau yang ada dalam posisi kenegaraan hanya ingat bahwa job description mereka adalah untuk memerintah, memberi perintah. Sepertinya ga ada tuh judul mengabdi, melayani, atau mempimpin. The leading part mungkin ada lah sedikit tapi the rest of it... Konsep itu foreign. Sepertinya jarang mereka mengingat bahwa mereka ada untuk membantu bangsa ini maju lebih lagi, menjadi pelayan publik. And really that's not a bad thing. I'd respect somebody who'd dedicate his or her life to serve this great country. They deserve the perks. If they serve the country. Jadi jawaban untuk keresahan dan kecapekan lo itu adalah dengan mengubah pola pikir. Pola pikir siapa? Dua-duanya, rakyat dan yang mengabdi. Dua-duanya harus ingat dan harus memiliki persepsi yang sama." She was still chewing; but nodding at the same time. "Jadi... Kata apa yang harus kita pakai untuk mengubah mentalitas yang ada?" tanyanya. Gue mulai menutup kaca jendela mobil, "Tau. Lo lah sekarang yang mikir. Can we pass by the martabak place? I want some sweet, high cholesterol lovin'."


I sincerely hope this made sense,
Athalia Karima Yedida Soemarko

2 comments:

  1. Tulisan lo selalu berhasil bikin gue mikir keras...
    tulisan yang ini bikin gue mikir keras 2x lipat..
    ok i'm lebay ,, but your post is so great ..

    ReplyDelete