Memilih Presiden dan... Pacar.

Dalam kurang dari dua belas bulan, Indonesia akan memilih pemimpin baru. Yes. To those who are oblivious to the development of this great country, pemilu akan berlangsung sebentar lagi. It's a hot topic. Gue sendiri sering membaca ulasan mengenai persiapan menuju momen bersejarah ini. Salah satu isu yang hangat dan sering diangkat adalah tentang generasi muda, first-time voters. Tidak sedikit yang menulis bahwa generasi muda memiliki peran yang penting! Tapi sangat disayangkan banyak tidak mengerti betapa pentingnya peran mereka! Mereka apatis! Mereka takut! Mereka kurang diberi informasi! Mereka... apa lagi lah itu. I personally think these people, be it young or old, are not stupid or ill-informed. They're just simply ignorant and lazy (insert explicit nouns here).

Harus diakui, isu ini menarik dan memang ada benarnya dari paparan diatas bahwa belum banyak orang muda yang mengenal secara mendalam peran mereka dalam membangun bangsa ini. Benar banyak yang cuek. Benar juga banyak yang tidak tahu. This is the reason why I love to talk to my peers. To get their opinions. To prove people wrong bahwa ada anak muda yang peduli dan mengetahui banyak perkembangan tentang pemilu. Tapi faktanya hanya segelintir yang peduli, even within my own social circle. Gue sering bercuap-cuap saat kami berkumpul makan membawakan topik Pemilihan Umum 2014. And I get the "stare" a lot. Tatapan mata yang memancarkan my friends' silent thoughts such as "You know, nobody cares about what you're saying" atau "Berat isunya. Yang lain juga ga ada yang peduli" atau "Jadi menurut lo...".

Menurut gue (and I have no idea where this idea came from), the underlying framework dari pemilihan presiden tidak berbeda jauh dari pemilihan... well, pacar.

Banyak yang beropini bahwa politik tidak memiliki relevansi kepada hidup mereka. Banyak yang beropini bahwa yang penting dalam hidup sekarang adalah mencari gelar, uang, dan... pacar. Well, let me try to draw you an anology, topiknya campuran: pemilihan presiden dan pemilihan pacar. Gue akan mencoba untuk menjabarkan bahwa kerangka pemikirannya tidak berbeda jauh satu dengan yang lain.



Seorang warga negara memiliki hak untuk memilih pemimpinnya. It's a democratic society. We live in a democratic society. Duh. Ini adalah hal yang sangat medasar tapi sering dilupakan. So choose your leader. Ini sama halnya seperti anda memilih pacar. I think it's safe to say that you no longer have to submit under the classic arranged marriage atau perjodohan paksa. You get to choose your own spouse. Lo memilik hak untuk memilih pasangan, teman hidup kalau kata Tulus. Proses untuk memilih "Si Dia" adalah suatu proses pemilihan, bukan? Job description untuk seorang presiden memang betul berbeda dari seorang pacar/pasangan. Tapi menurut gue ada beberapa titik yang mirip dalam kerangka proses pemilihannya. Let's elaborate.

  • KANDIDAT. Untuk memilih presiden dan/atau pacar pasti harus ada kandidat. Kandidat, atau calon, adalah orang yang unggul dari banyak orang lainnya. Untuk presiden, yang mencetuskan kandidat adalah partai; dan untuk pacar adalah... seleksi independen yang lo racik di kepala lo, nyokap, teman atau kalau anda memang ngebet, mak comblang. Kandidat boleh lebih dari satu dan dari beberapa kandidat itu pilih lah yang... Nah. Terserah lo mau bilang yang terbaik, cocok, mapan, dan lain sebagainya. But you got to know, not only who to choose, but how to choose. Kalau lo ga mau milih, nanti orang lain yang akan memilihnya untuk elo dan pada saat itu lo ga berhak untuk protes. Wong sudah diberi kesempatan tapi disia-siakan. Salah siapa?
     
  • LATAR BELAKANG. Menurut gue bibit, bobot, bebet berlaku untuk pemilihan presiden dan/atau pacar. Untuk calon presiden, seorang pemilih harus mengenal betul track record-nya. It shows, prima facie, the measurable experience of a person. Untuk calon pacar, biasanya yang perempuan mengerti bagaimana mencari (atau mendalami) latar belakang sang calon. Remember, when you find out things, you're not allowed to judge the person karena untuk menghakimi orang itu urusan Tuhan. But you can use your findings as a source of consideration. Lihat hobinya, bagaimana ia menghabiskan waktu luangnya, tweets-nya, postingan Facebook-nya, dan lain sebagainya. You know what to do. Hati - hati. Paras yang tampan bukan jaminan mutlak kebahagiaan. Sama juga dengan publikasi dan kampanye seorang calon presiden. Go beyond the surface and the images. Look deep. You might like or dislike what you will find. Tapi setidaknya you will not be caught off guard.

  • PRINSIP. Prinsip adalah alasan dasar keputusan/tindakan seseorang. Dari track record yang sudah ada, lihat keputusan/tindakan kandidat presiden anda. Why did he or she do that? Prinsipnya apa? Apakah tindakannya berdasarkan agama, hukum, kepentingan partai, atau...? Tanyakan pertanyaan yang sama untuk kandidat pacar. Lihat juga apakah tindakannya berdasarkan "tapi temenku..." atau "kata nyokap...". Alexander Hamilton once said, "Those who stand for nothing fall for anything.

  • PRIORITAS. Setiap manusia memiliki hal yang ia anggap penting dalam hidup. Prioritas inilah yang menentukan langkah yang akan diambilnya. Bagaimana mengetahui prioritas seseorang calon presiden dan/atau calon pacar? Kembali lagi, cari indikator prioritas ketika mendalami latar belakangnya. Cara yang, menurut gue, paling tepat untuk mengetahui prioritas sesorang adalah dengan bertanya. Untuk kandidat presiden, bertanya tidak usah secara langsung bertemu muka dengan muka. Perhatikan apa isu yang ia selalu angkat. Perhatikan sektor industri apa yang mendukungnya. Perhatikan siapa saja sih pemandu soraknya. Untuk kandidat pacar, bertanyalah waktu kalian sedang dalam proses berkenalan. Lempar pertanyaannya secara halus dan lihat reaksinya. Biasanya orang yang mengerti betul prioritas hidupnya bisa langsung memaparkan langsung apa hal yang penting dan kenapa hal itu penting.

  • PEMECAHAN MASALAH. Problems! They are the spices of life! Menurut gue masalah adalah bumbu yang memberi a good taste to life. Tapi pasti ada takarannya. Setiap orang pasti akan bertemu dengan masalah selama ia masih bernafas. Yang membuat satu orang berbeda dari yang lain adalah cara mereka menyelesaikan masalah tersebut. Ini berlaku untuk seorang calon presiden dan terlebih lagi seorang calon pacar. Jika ada masalah apakah ia akan melepas dan lari dari tanggung jawab, mengkambing-hitamkan orang, menyelesaikan masalah lewat jalan belakang, dan lain sebagainya. Seberapa gesitnya ia bisa menyelesaikan masalah tersebut? Apakah dia tau apa yang ia harus katakan tapi lamban dalam melakukan? Apakah ia tidak berkata apa - apa tapi membereskan apa yang menjadi tanggung jawabnya? Bagaimana ia menyelesaikan masalahnya? Dengan kekerasan, dengan diplomatis, dengan kompromi?

Sejauh ini, gue baru memikirkan lima poin diatas. I'm sure there are more. Menurut gue, memilih seorang presiden lebih mudah dari pada memilih pacar. Karena waktu seorang pemimpin negara dipilih, dampaknya tidak akan sebesar waktu anda memilih siapa yang akan menjadi pendampingmu. Pacar akan berada disamping anda selamanya, apalagi kalau sudah sah dengan adanya pernikahan. Seorang presiden akan menjabat selama lima tahun. Bukan selamanya. Lagi pula interaksi langsung anda akan terbatas. Anda dan pacar akan menjalani kehidupan (seberapa pendek ataupun panjangnya proses tersebut) bersama. Berdua. Kalau sudah matang, kalian berdua nanti akan dikaruniakan manusia - manusia kecil yang akan melajutkan bangsa ini. Generasi baru. That's how much power you and your spouse will have. Seorang presiden tidak akan muda lagi. Suatu hari ia akan pergi. Can you see the power of your choice? Bisa lihat ga dampak pilihan lo? Yang satu akan berdampak lima tahun kedepan dan untuk negara; yang satu lagi akan berdampak selamanya dan untuk masa depan negara. Kedua pilihan lo akan berdampak kepada masa depan. Believe it or not, you can change this country. If you make the choice to do so.


Selamat memilih,
Athalia Karima Yedida Soemarko.

A Monologue About... Magazines.

I was sitting on my sofa this morning after an hour of heavy work out session reading, well..., Esquire. Then my brain did a backflip and asked me blatantly: "If you were to choose a guy, you would pick a GQ or an Esquire reader?"

Genius, I thought! Never once did I try describing a guy I would prima facie fall for based on the periodical publication containing articles and illustration that he reads! That was the definition of a magazine, for your information. I've always wondered how the hell would I ever narrow guys down, let alone one I would fancy. It never cross my mind that the magazine they read would be an avenue. If this question was to be shoved on my face, I think this would most likely be my answer.

This was the start of my monologue. B is Brain and A is Athalia.


B: "If you were to choose a guy, would you rather pick a GQ or an Esquire reader?"
A: Chuckles. "Funny question. Never thought of that."

B: "Well what say you?"
A: "I would like to formulate a personalized answer. He would be the audience of National Geographic, the New York Times, SPIN, and Wired."

B: "Do elaborate further."
A: "National Geographic is photography, nature, science, and history in one package, this of course is in my personal opinion. He might be a little curious, hungry for well-researched information and yet still appreciate great photography. A mix of science and art. And maybe, since the magazine has been around since 1888, his grandparents might have been a subscriber which might imply that he comes from a family that appreciates photography, nature, science and history too. My grandfather was a subscriber. I still have some of his issues in my library. Isn't that a lovely thought?"

B: "The New York Times?"
A: "I subscribe to the New York Times due to the topic diversity and the cherry on top would be my love for New York City. It's a magazine and a newspaper; and I love shuffling through its travel and real estate pages. I read most of the popular articles and my favorite section would be Dining and Wine. I just love New York City. I do. I really do. I would love him to love it too. This might be one of the ways we can actually relate to each other; over food, travel, and news. Oh and he would have to know what's going on in the world. The New York Times. Enough said."

B: "SPIN and Wired. Why?"
A: "SPIN is honestly where I get most of my music reviews. My root was, admittedly, jazz and the likes but I have to expand further. Cannot be stuck with the likes of King Cole, Coltrane, Davis, and Getz. So I read SPIN. SPIN is not as rock and roll as the Rolling Stones. He might be an indie fanatic. Would love it if he listens to Japandroids, Imagine Dragons, Sondre Lerche yet still tapping into the likes of John Mayer, The Killers, and maybe even Stevie Wonder. He must have the knowledge of the bands too. I mean, really... I do not think I can cope with shallow. Wired is just awesome. I love nerds, the cool nerds. I assume they read Wired."

B: "Why is Monocle not on your list? Forbes?"
A: "Ah... Yes, Monocle. Jakartans are into Monocle these days but he must have noticed that it was first published in 2007, which makes it fairly new. I go for the traditional. The ones that has been on the business for at least the past 15 years. With that question, you imply that Forbes are for... business men?"

B: "Yes? Are you into business men?"
A: "I have not yet met a decent one."

B: "Ah....."
A: "Yeah."

B: "So if a guy hits all of those magazines, he's your type?"
A: "No. This is skin-deep. A prerequisite, maybe."

B: "What's your type then?"
A: "I don't have a type but I do like guys who read."

B: "Let's go back. GQ or Esquire."
A: "Esquire."

B: "Why?"
A: "Going back to the very basic. Esquire is a young nobleman who, in training of knighthood, acted as an attendant to a knight. While GQ is simply the abbreviation of Gentlemen Quarterly. I'll take the knight, thank you very much."

B: "Fair enough."
A: "I hope he knows that too or else this would all be in vain."

B: "True. Let's grab some food."
A: "Yessssss."



This might not end up in my Draft Folder. I might just post this. And you might think I'm weird. Yet not a care is given from this side of the screen.

Mhmm.
Athalia Karima Yedida Soemarko