Love, Logic, ... and Trust.

Cinta itu ga rasional. Tak ada logika, kalau kata Anges Monica.

I just came back from a long trip abroad dan kebetulan sekarang sedang jet lagged karena di negara dimana gue spent about three weeks in sekarang masih sore. Jadi ya... belum ngantuk. Kalau gue lagi ga ngantuk dan bosan biasanya isengnya keluar. So I went through my notes and scribbles. I scribble a lot, for you information. Gue suka tulis-tulis things that just randomly popped up in my head kalau suatu scene reminds me of someone or something. Ternyata I wrote a paragraph when I was in London. Kebetulan waktu membaca paragraf itu lagi gue bisa inget situauasi dimana this thought popped out. I was standing still di tengah Piccadilly Circus, sebuah alun-alun di tengah kota London, di kelilingi oleh beratus-ratus orang yang lalu-lalang trying to get from one place to another on that Friday night. Ganteng, cantik, tinggi, pendek, kurus, blonde, brunette, gemuk, hitam, putih, etc. All these faces... and then boom... 

I wrote to myself, di tengah keramaian itu, sebuah paragraf yang mungkin kedengarannya aneh but it spoke to me. It felt so real right there, right then.
"Cinta itu ga logis. Dari bermiliar-miliar orang yang ada di bumi ini, you bet your luck on one. Just one. Dan berharap bahwa dia adalah yang satu-satunya yang di ciptakan for you. Just you."

To be perfectly honest, it's hard for me to trust. Susah. Jauh lebih gampang untuk gue sayang daripada gue percaya. Ini semua bermulai dari ketakutan gue terhadap sakit hati. Siapa yang mau sakit hati? Ga ada lah. Apa lagi gue. Gue tau kok rasanya sakit hati dan bukan cuma sekali dalam arti yang romantis cinta-cinta dan kawan kawannya. Sakit hati itu bisa datang dari semua tempat dan semua orang. Tapi one thing's for sure, it hurts too much to go through it more than once. Jadi gue buat lah benteng-benteng yang bisa melindungi hati gue dengan logika gue. I said I love you kepada a lot of people but then I realized I never really loved anybody. Sayang yang gue kira adalah "sayang" selama gue ga harus mempercayai orang itu hanyalah sebuah "kepedulian". It was me caring, it was never me loving. 

So what is love? There in the middle of Piccadilly, I figured that love and logic... dan semua jumbalaya yang sekarang sedang terjadi di otak gue,... mereka tidak selalu bisa berjalan bersamaan. If you don't trust, you don't love. Bukan artinya lo ga berpikir dan mengunakan otak lo yang brilian itu untuk membuktikan bahwa lo sayang. No. It sometimes tells you to take chances, kesempatan-kesempatan yang otak lo tau berbahaya but when you bet on it and you do the things you never thought doing, di situ lah lo tau what is love... And that's really what trust is. So to love is to trust.

I love to run away. Ini adalah salah satu alasan kenapa gue suka traveling. It takes you out of your world and brings you to another dimana lo ga kenal siapa-siapa dan lo ga akan bertemu manusia-manusia tersebut juga dalam selang waktu dekat. Tapi pada saat lo pulang, you have to face your demons. Gue harus face my demons. And my demons are my problems, my fears, and the things I hate to face. Gue ga santai orangnya. Tenang, tapi tidak santai. I like to be in control, I don't like surprises, and I like things to be without risk. Tapi hidup pada realitanya tidak seperti itu. Kalau memang gue mau hidup yang seperti itu, I might as well live in a cave. Dulu gue kira I should be nice to everyone, friend to some, love only one but trust no one. Sukses loh, jangan salah. Tapi life became so hard. Semua harus di pikirin dengan segala ketidakpastian hidup, mana bisa mikir terus. Capek.

And you live only once. I'd live only once too. Gue ga percaya bahwa gue akan berubah menjadi manusia lagi ataupun binatang nanti sehabis gue mati. If I die, I die dan itu adalah akhir cerita gue. I don't want to die without ever taking a chance on love. Heck. I don't want to live without loving. Gue akan mulai satu langkah demi satu langkah. Don't be expecting me to start trusting everyone. Ha. Ha. Ha. It doesn't work that way. Tapi gue udah capek untuk mencoba merasionalkan segala sesuatu.

This is one of the most honest entries I ever wrote. Mungkin karena gue capek, jadi gue males tulis suatu yang too ornate and downright honest. Or maybe this will just end up in my Draft Folder, like every other writing that I wrote. But one thing's for sure, berani hidup itu memang lebih susah daripada berani mati.  

So I'm going to live and love. And trust. A little bit. To some people... Or maybe just one or two people. I don't know just yet.



Cheers,
Athalia Karima Yedida Soemarko