To Live With Or Without.

This is an opinion which might make me look insanely cold hearted but, hey, a thought is a thought. So here it goes.


I went home from campus today and opened my Twitter account and there it was, written in plain English, a tweet by a person that simply says, 



"How can I live without you? :("
Stupid question, enough said.

My eyes read the letters, my heart was unmoved, and my brain computed the justification. The question "How can I live without you" is just... blah. The fact that you're living right now means that yes it is possible to live without that particular person. The question is only whether you want to live without him or her. You can, of course you can. Taking a breath does not require the consent of another party. Its your own choice. You breathe because you can. Whether you want it or not, that's a different story.

So to those who are heartbroken out there. Stop it.

You can live without that person you miss. You have to want to live without him or her when he or she does not want to have you in their lives anymore. Plus here's a better statement... Its a bit more uplifting than the question posted above.


Say what you need to say. But, before hand, think about what you are about to say. Its an opinion. You are free to disagree.


Twiddle-think tweedle-thonk,
Athalia Karima Yedida Soemarko.

No Galau Allowed.

Galau (noun) is a term developed by Indonesians to express a state of intense emotion where they are led to believe that they live in an extremely sad world.

Truth be told, gue ga setuju sama existensi kata galau. Kata banyak orang, kalau ga galau berarti ga manusia. Lah... Kenapa begini? Gue, jujur di kata, ga suka dengan orang yang galau. Energi yang terpancar dari tulisan-tulisan mereka negatif, pemikiran mereka negatif. Kalau ga negatif, ya sedih.

Bukannya gue ga suka dengan adanya emosi tapi, ya, galau ga akan bawa lo kemana-mana. Masalah ga akan hilang dengan lo menjadi galau. Lagipula bukan lo satu-satunya orang yang punya masalah di dunia ini. Coba tarik pandangan lo keluar, masih banyak kok yang punya masalah juga.

I have a couple rule-of-thumb when it comes to being "Galau":
  • Galau tidak boleh lebih dari 5 menit. Why? Karena kalau lo terlalu lama berada dalam kondisi yang down, kapan lo bisa jadi kuat? Yang lo butuhkan sekarang kalau memang sedang dalam masalah adalah mencari penyelesaian masalah itu bukan memupuk persaan penyesalan. Mau sedih selamanya, masalah akan tetap ada. Galau lima menit itu acceptable karena memang semua orang pasti ada waktu down, pasti butuh waktu untuk menangis, untuk mengeluarkan emosi. Tapi masalah ga akan bisa diselesaikan dengan emosi. Jadi lepaskan lah semua itu dulu, nangis lima menit, marah marah lima menit, diam lima menit. Habis itu you got to get back up on your two feet and face the problem. Kalau ga lo ga akan kemana-mana. Dijamin.

  • Kalau galau, lebih baik seluruh dunia tidak usah di beri tahu, saudara-saudara. Lemah itu memang tidak salah. Semua orang punya cerita, semua orang menderita every now and then. Tapi itu adalah struggle lo sendiri. Solve it on your own and then you would have personal strength. Ga semua penyelesaian datang dari orang lain atau faktor-faktor external. Sometimes all it takes is a little quite time with you, your mind, and your heart.

  • Jangan pasang lagu yang equally sad. Bikin kesel ini kadang-kadang. Udah tau sedih, pasang lagu sedih. Get your feet right back up and pump your blood back to your head. Hal terakhir yang lo perlu adalah lagu-lagu mellow yang menjatuhkan lo lagi kedalam lubang kegalauan.

  • Call your bestfriend, the person who you can rely on. Cari satu orang, SATU orang, yang bisa lo jadikan sebagai sanggahan kekuatan. Tapi lo harus bear in mind kalau manusia ga bisa selalu selamanya bersama lo. Tapi secara kita diciptakan sebagai mahluk sosial, its wise untuk punya satu orang yang bisa di percaya dan di andalkan. Kenapa cuma satu orang? Karena people talk. Makin banyak orang tau, makin besarlah masalahmu. You want to avoid this situation at all cost karena kalau tidak masalah lo yang sebenarnya tidak sebesar apa yang lo kira, menjadi besar daaann... menjadi bahan omongan orang.

  • When all fails, get down on your knees and pray. Kenapa? Karena kadang-kadang masalah yang kita hadapin ga akan ada solusinya. Its too big for us to solve, its too big for anyone to solve. Biarpun lo cerita ke sejuta umat, mereka tidak akan bisa menyelesaikan masalah itu untuk lo. Sometimes you are faced with situations where you are at a point where you feel most alone, and THAT, my friend, is when you would have to toughen up and fight your own battle. Ga akan ada elemen external yang akan bisa menolong lo. Drugs, alcohol, you name it, tidak akan menyingkirkan masalah. Mungkin untuk semalam lo bisa lupa tentang masalah lo but when you wake up the next day with a massive hang over, the problem would still be there. Dan pada saat itu, lo akan harus mengambil keputusan whether to go back to being galau and find a stronger substance to help you forget atau lo akan menguatkan diri lo dan mulai membereskan the mess you've made. Keputusan akan ada di tangan lo.
Merasa down itu is a very human behaviour. Semua pasti pernah tapi some choose to get back up in order to walk further in treading the road to life sementara beberapa orang memilih untuk tinggal diam di dalam mentalitas kesedihan dan self-pity. Semua keputusan ada di tangan lo, selalu. Hidup ini kan punya lo. Hak ada di tangan lo. Question is apakah lo mau jalan lebih jauh, mendaki gunung kehidupan yang lebih tinggi? Mau jadi sukses dalam hidup? Mau mejadi penyelesai masalah? Mau berprestasi? Ga gampang. Pasti akan ada waktu dimana lo akan di tampar kiri-kanan dengan kekerasan kehidupan, dan di situ adalah tempat penentuan seberapa layaknya sih lo bisa kuat menghadapi kehidupan yang sebenarnya.


The one who is still trying to be happy everyday, all the time,
Athalia Karima Yedida Soemarko.