Christmas, All Grown Up.

Natal 2011 akan menjadi natal ke-20 gue. I have lived in this earth for 20 years and thus this will be my 20th Christmas. I'm excited! I hope you are too. 

Kalau anda membaca entry ini mungkin anda berpikir bahwa I must had a very good morning. On the contrary, pagi ini gue bangun dengan migraine yang sangat heboh. Kepala gue literally mau pecah rasanya dan lagi malam sebelumnya gue demam agak tinggi sampai I had to ditch my work and my team to catch a little sleep. Gue jalan masuk ke kamar kerja dan I opened my e-mail. There it was, a warning e-mail from a senior I'm working with yang memberitakan dengan segala cara bahwa ternyata pekerjaan gue selama ini tidak memuaskan. I don't blame him. I blame myself. Tapi I figured sebelum gue mulai membetulkan hidup gue kembali, at least let me get some breakfast. Tiba-tiba... listrik padam, gue belum mandi, belum makan, dan... Ternyata memang tidak ada makanan. I ran out of cereals, I ran out of fruits, and there was no car in the house to drive me to the mall. Pagi yang indah untuk marah-marah.

But then I told myself, "Happy thoughts, Athalia. Happy thoughts. Think happy thoughts. Think what you want for Christmas!" Selagi gue memikirkan apa yang gue akan todong nyokap bokap gue tahun ini, I didn't feel a slight bit happier. Masih ada rasanya mau marah, masih sebel, masih bete. Lalu terpikirkan lah sesuatu yang kita semua tahu, tapi selalu kita lupakan: bersyukur. Memiliki barang dan materi lebih banyak nga akan membuat lo senang. When you're all grown up, you don't list for things you want for Christmas. You list the things that you are thankful for all year round.

Isn't that a thought? Jadi gue bertekad untuk mengubah paradigm gue. No more Christmas Wish List. Gue akan bersyukur dengan apapun yang gue sudah punya. Starting now.

I'd make a list here but I figured there are too many things I'm grateful for. Terlalu banyak di dalam hidup ini hal yang sebenarnya gue harus berterima kasih. Maybe I'll list it soon and post it publicly... But for now, I am grateful for my senior yang mengingatkan kembali bahwa I can't settle with my mediocre work. Gue bersyukur masih ada orang yang mau mengingatkan kalau potensi otak gue ini sebenarnya besar. Tapi ga di pakai saja. Thank you for the reminder :-)



Ever grateful,
Athalia Karima Yedida Soemarko.

No comments:

Post a Comment