Labile |ˈlāˌbīl; -bəl|

Labil (adjective) is a term popularized by Indonesian youngster to describe a state of being unstable while trying to make decisions or take concrete actions; usually appear when he or she is about to make a choice.

Hhhh sepertinya sudah agak sedikit terlalu lama gue ga nulis hal-hal yang lebih dari dua atau tiga kalimat. Mengapa demikian, ya karena ini, labil. Mungkin untuk galau gue bisa berbangga kalau sampai hari ini gue belum pernah masuk ke lubang kegalauan tapi kalau sudah yang namanya labil, saudara-saudara, anda dan saya harus mengakui kalau we're on the same boat. Setiap hari setiap dari kita di tuntut untuk mengambil keputusan, entah besar atau kecil, but you will have to choose something sometimes somehow because if you don't, you are not a free man.

Nulis gak ya... Belajar gak ya... Ini gak ya... Itu gak ya...

Nah loh haha. Labil kan? Satu minggu ini kampus gue mengadakan minggu tenang, satu minggu tanpa kelas untuk persiapan Ujian Akhir Semester; which basically means, for me personally, that I got to slack off for a week and get a glimpse of how heavenly summer could be and then have that dream shattered by the thought of prepping for final exam. Macam di beri harapan palsu. Malesnya parah. PA-RAH. Kenapa? Ya karena labil, the state of not being able to choose. Hari ini adalah hari Jumat, H-3 UAS, dan gue baru disadarkan betapa fatalnya keputusan-keputusan gue yang berbasiskan kelabilan ini. So I figured I better come up with some solutions. So here they are for you to read, and hopefully, learn too. Jangan salah, gue juga masih belajar bagaimana caranya untuk tidak labil dan pasti dalam berjalannya waktu, list ini akan berkembang dengan sendirinya.


Labil 101 (1st Edition, May 2011)

  • Prioritas, prioritas, prioritas. Dimana-mana selalu pasti ada tingkatan posisi dari kepentingan sesuatu, pasti, ga mungkin ga ada. Contoh: Nonton konser atau belajar untuk kuis; notnon konser atau meluangkan waktu bareng sama keluarga; nonton konser atau hemat uang. Gue adalah tipe orang yang suka melihat satu situasi dari dua sisi, apalagi kalau masalah mengambil keputusan. I got to list down the plus side and the minus side just to make sure that I will be on the safe side. Coba deh buat Plus v. Minus List kalau lo lagi labil dan punya banyak waktu untuk memilih. Biar lebih enak, let me explain using the example above:
  1. + side: Konsernya cuma satu kali satu tahun dan lo ga tau kapan lagi lo bakal mendapatkan pengalaman nonton band itu. Belum lagi nanti tiba-tiba mereka mendadak bubar, kan dunia itu unpredictable. You'll never know!
  2. - side: Ada kuis yang harus dipersiapkan, bisa di kejer tapi lebih baik tidak.
  3. - side: Pengeluaran finansial udah agak sedikit terlalu banyak. Another Rp. 900,000 would be a total rip off.
  4. - side: Sudah lama ga makan sama orang tua, Rp. 900,000 itu kayanya bisa untuk traktir makan bareng. Kalau licik ada tambahannya, siapa tau mereka senang lalu di kasi uang jajan yang lebih jadi kalau ada konser lain bisa nonton tanpa harus makan sehari sekali selama satu minggu.
  5. + side: Konsernya gaul (najis tapi I know it sometimes crosses your mind)
  6. Pengecualian: Ada tiket gratis. Jadi elemen yang menghalangi sekarang tinggal si Nomor 2: Kuis... Selamat memilih.

  • Waktu berhadapan dengan pilihan yang memerlukan keputusan yang cepat tapi insignifikan: dengarkan suara Ibumu. Believe me, I have faith that your Mother has taught you well on the way of the world to know what to choose when you are on your toes. Berhadapan dengan pilihan seperti: belajar atau tidak; tidur lagi atau bangun mandi; berhenti main internet atau baca buku pelajaran... Lo tau lah yang harus di pilih yang mana. Kalau lo ga tau, coba tutup mata dan bayangkan nyokap lo bakal teriakin yang mana ke muka lo. Kiri atau kanan? Udah tau? Ya udah sekarang nurut, ga usah pakai acara labil, pikir panjang lebar hanya membuang waktu dan energi.

  • Go with what you know and not what you feel. Kenapa gue bilang pilih apa yang lo tau bukan apa yang lo rasa? Karena feelings change. Sekarang lo ngantuk, nanti lo laper, nanti lagi ada lagi yang lain yang dirasakan. Ga ada habisnya dan pada akhirnya pekerjaan tidak selesai. Ini menurut gue adalah dasar dari seorang yang profesional, pekerjaannya tidak terganggu oleh emosinya. Untuk beberapa bidang pekerjaan, terutama pelajar, kepala itu lebih penting dari hati. Kalau anda adalah seorang artis atau musisi, beda cerita lah. Mungkin kalian memang perlu mood dan waktu yang benar untuk bekerja. But honestly, when there's a deadline on the way and you got no mood, pekerjaan harus tetap berjalan bukan?

  • If you don't like it, do it anyway. Belajar itu ibaratnya seperti olah raga; mau badan kekar, harus angkat berat. Mau pintar ya belajar. Yeah gue sambil ngetik ini agak gedek juga sebenarnya tapi... ya udah lah ya.

  • Bersyukur. Bersyukur masih bisa memilih, bersyukur masih ada pilihan, bersyukur masih ada orang yang mengingatkan kalau salah, bersyukur kalau salah masih ada kesempatan kedua. Anda masih muda, saya juga. Bersyukur anda sadar bahwa labil itu tidak sehat dan anda masih punya waktu berubah sebelum ini menjadi kebiasaan buruk. Sudah bersyukur? Sekarang coba jangan labil dan putuskan bahwa mulai dari sekarang I'll make right choices.

Yang mau berubah,
Athalia Karima Yedida Soemarko.

No comments:

Post a Comment