Stories, Books, and People.

Metaphor (noun) is a thing regarded to represent something or to make as a symbol of something especially something abstract in nature.

Di dalam hidup ini kadang - kadang kita tidak mengerti. Tidak mengerti apa? A lot of things. Not being able to understand drives me nuts sometimes dan muncul lah pertanyaan 'Kenapa?'. Kenapa ini, kenapa itu, kenapa tidak begini, kenapa tidak begitu. Ga ada salahnya bertanya. Ga ada salahnya juga bingung. Bingung does not make you stupid. Bingung itu kadang-kadang pertanda bahwa your brain is working. Sesuatu di otak lo dan ide yang diberikan tidak sinkron maka dari itu ada clash dan you don't know how to connect the dots. Itu bingung.

Anyway going back to my point, understanding. "Aku ga ngerti..." mungkin adalah salah satu frase yang otak gue ulang berkali-kali tentang segala macam hal apa lagi yang abstrak, yang ga konkret, yang ga riil. Tapi ada satu real being yang sampai hari ini gue ga bisa mengerti. Bukan Tuhan. I don't like doing religious talks. Mungkin di lain waktu gue jelaskan kenapa. This real being is... well, human. Human(s), if I may add. Orang. Gue tidak mengerti orang, sometimes, most of the time. Beberapa minggu ini gue menemukan orang-orang yang gue tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Ada lah perempuan yang suka copy-paste blog entry orang biarpun sudah di peringati, ada juga lagi laki-laki yang otaknya entah bagaimana bisa melakukan hal-hal yang secara commonsensical salah tapi tetap saja di lakukan, dan lain lain. I bet banyak juga orang yang lo ga ngerti dan itu bikin lo kesel, biarpun lo sudah berusaha untuk santai but somewhere in your head you don't understand them.

Jadi suatu hari, beberapa minggu yang lalu, gue duduk diam manis-manis mencoba mencerna whatever you call this phenomena to be. Gue berpikir and berpikir dan berpikir dan berpikir bagaimana caranya gue bisa mengerti kenapa orang - orang ini do the things that they do. That day I sat down at the library and this thought donned on me. A metaphor. A metaphor about people and why sometimes you and I don't understand them.

People are like books. You judge them by their covers. Selubung mereka bisa berbentuk penampilan atau kecantikan; juga dari baju yang di pakai, senyum yang diberi, atau kalau lo suka dengan yang romantis-romantis, lirikan mata yang dipancarkan bisa saja jadi selubung. That's all part of a person's cover: apa yang lo pertama kali dapat waktu you first set eyes on them. Kadang-kadang lo suka dengan apa yang lo liat, maka dari itu lo ambil buku itu dan you decide that you would like to read further. Tapi mungkin lo ga suka dengan apa yang lo dapat pada pandangan pertama. Mungkin muka orang itu membuat lo tidak srek atau mungkin aura orang itu saja sudah membuat naluri lo bilang, "Don't get near. She's nothing but trouble." So you put the book back on the shelf without any further interest dan benak lo sudah menetapkan pikiran bahwa buku itu sudah pasti jelek atau tidak worth your time.

But what makes a book a book? Stories. Cerita yang tersirat di dalam halaman buku itu. Lembar demi lembar menceritakan kehidupan sang pemeran utama; mulai dari lahirnya dia di dunia ini sampai pada akhir hayatnya. Setiap lembar melambangkan setiap hari dari hidupnya. Satu lembar untuk satu hari. Mungkin pada waktu lo bertemu dengan seseorang, lo sedang membaca that page of his life. You are writing it too, making a mark on that blank page. Waktu lo ketemu sama sang pemeran utama, you don't know the beginning of the story or how he ended up on that page. Lo ga tau apa yang terjadi di halaman-halaman sebelumnya, let alone the beginning of the chapter. Karena itu lo ga mengerti orang. You will not understand a person until you know his story. Bagaimana cara membaca buku hidup sesorang? You start reading their pages when they tell you their stories.

Ada banyak manusia di dunia ini. Reading all of them is impossible, thus trying to understand all humans is not a possible task. Ini yang lo bisa lakukan, always have this in your mind: I don't know this person's story. Saya tidak tahu cerita orang ini. Mengapa cerita hidupnya sedih, mengapa dia menulis hal-hal absurd di dalam buku kehidupannya sendiri. Mungkin di dalam cerita hidupnya ada kejadian-kejadian yang lead up to this sad part of the book. Buku itu progressive. Ada alur cerita, dari introduction to the ending di tengah-tengah siapa yang tahu. Tidak semua halaman bukunya sedih, tidak semua halaman bukunya gembira; tidak semua halaman bukunya penuh dengan kejayaan, tidak semua halaman bukunya dilingkupi kekalahan. Don't judge. Most importantly, don't assume. Jangan anggap semua cerita sedih itu buruk atau cerita senang itu indah. You don't know the ending yet, demikian juga dengan sang pemeran utama. Dia aja ga tau what will become of his life, who are you to assume about his entire story?

BOOM. Like that this falls on my head. Gue ga tau apa ini pernah muncul di Internet atau website lain tapi I honestly thought of this by myself dan di sini gue temukan masalah gue. Kadang-kadang gue dipertemukan dengan orang dan Waktu tidak memberikan gue kesempatan cukup untuk mengerti cerita hidupnya dari depan sampai dengan halaman dimana ia sedang berada sekarang. When I find a person annoying, I assume about his or her story. Apa yang gue lakukan sekarang waktu gue bertemu dengan orang yang cerita hidupnya gue nga mengerti, I stay quiet. I see how he or she writes her days ahead. Kalau memang gue tidak akan bertemu orang itu lagi dan menjadi bagian dari halaman-halaman kehidupannya, I don't want to be written as an evil person. Cobalah rem pikiran-pikiran jahat karena waktu lo berpikir jahat, you're writing on your own book's page. Setiap kali dua manusia bertemu, dua cerita sedang di tulis, cerita dirinya dan cerita dirimu. Ini mulai membingungkan dan gue mulai ga ngerti lagi gue lagi ngetik apa. Ha ha. I'm still figuring this theory out, makanya belum ada konklusi yang konkret.


This is a metaphor, my metaphor. It's still in progress because I myself am writing my own Life Book. Pasti dengan berjalannya waktu teori gue ini akan teruji dengan sendirinya. Mungkin suatu saat nanti gue akan tau apa memang benar orang itu adalah sebuah buku. But this is what I'm going to settle with for now. Setuju atau tidak terserah anda. I never asked you to agree with me anyway.


Hey it's your life, your book. Write your story.


An author,
Athalia Karima Yedida Soemarko.

Labile |ˈlāˌbīl; -bəl|

Labil (adjective) is a term popularized by Indonesian youngster to describe a state of being unstable while trying to make decisions or take concrete actions; usually appear when he or she is about to make a choice.

Hhhh sepertinya sudah agak sedikit terlalu lama gue ga nulis hal-hal yang lebih dari dua atau tiga kalimat. Mengapa demikian, ya karena ini, labil. Mungkin untuk galau gue bisa berbangga kalau sampai hari ini gue belum pernah masuk ke lubang kegalauan tapi kalau sudah yang namanya labil, saudara-saudara, anda dan saya harus mengakui kalau we're on the same boat. Setiap hari setiap dari kita di tuntut untuk mengambil keputusan, entah besar atau kecil, but you will have to choose something sometimes somehow because if you don't, you are not a free man.

Nulis gak ya... Belajar gak ya... Ini gak ya... Itu gak ya...

Nah loh haha. Labil kan? Satu minggu ini kampus gue mengadakan minggu tenang, satu minggu tanpa kelas untuk persiapan Ujian Akhir Semester; which basically means, for me personally, that I got to slack off for a week and get a glimpse of how heavenly summer could be and then have that dream shattered by the thought of prepping for final exam. Macam di beri harapan palsu. Malesnya parah. PA-RAH. Kenapa? Ya karena labil, the state of not being able to choose. Hari ini adalah hari Jumat, H-3 UAS, dan gue baru disadarkan betapa fatalnya keputusan-keputusan gue yang berbasiskan kelabilan ini. So I figured I better come up with some solutions. So here they are for you to read, and hopefully, learn too. Jangan salah, gue juga masih belajar bagaimana caranya untuk tidak labil dan pasti dalam berjalannya waktu, list ini akan berkembang dengan sendirinya.


Labil 101 (1st Edition, May 2011)

  • Prioritas, prioritas, prioritas. Dimana-mana selalu pasti ada tingkatan posisi dari kepentingan sesuatu, pasti, ga mungkin ga ada. Contoh: Nonton konser atau belajar untuk kuis; notnon konser atau meluangkan waktu bareng sama keluarga; nonton konser atau hemat uang. Gue adalah tipe orang yang suka melihat satu situasi dari dua sisi, apalagi kalau masalah mengambil keputusan. I got to list down the plus side and the minus side just to make sure that I will be on the safe side. Coba deh buat Plus v. Minus List kalau lo lagi labil dan punya banyak waktu untuk memilih. Biar lebih enak, let me explain using the example above:
  1. + side: Konsernya cuma satu kali satu tahun dan lo ga tau kapan lagi lo bakal mendapatkan pengalaman nonton band itu. Belum lagi nanti tiba-tiba mereka mendadak bubar, kan dunia itu unpredictable. You'll never know!
  2. - side: Ada kuis yang harus dipersiapkan, bisa di kejer tapi lebih baik tidak.
  3. - side: Pengeluaran finansial udah agak sedikit terlalu banyak. Another Rp. 900,000 would be a total rip off.
  4. - side: Sudah lama ga makan sama orang tua, Rp. 900,000 itu kayanya bisa untuk traktir makan bareng. Kalau licik ada tambahannya, siapa tau mereka senang lalu di kasi uang jajan yang lebih jadi kalau ada konser lain bisa nonton tanpa harus makan sehari sekali selama satu minggu.
  5. + side: Konsernya gaul (najis tapi I know it sometimes crosses your mind)
  6. Pengecualian: Ada tiket gratis. Jadi elemen yang menghalangi sekarang tinggal si Nomor 2: Kuis... Selamat memilih.

  • Waktu berhadapan dengan pilihan yang memerlukan keputusan yang cepat tapi insignifikan: dengarkan suara Ibumu. Believe me, I have faith that your Mother has taught you well on the way of the world to know what to choose when you are on your toes. Berhadapan dengan pilihan seperti: belajar atau tidak; tidur lagi atau bangun mandi; berhenti main internet atau baca buku pelajaran... Lo tau lah yang harus di pilih yang mana. Kalau lo ga tau, coba tutup mata dan bayangkan nyokap lo bakal teriakin yang mana ke muka lo. Kiri atau kanan? Udah tau? Ya udah sekarang nurut, ga usah pakai acara labil, pikir panjang lebar hanya membuang waktu dan energi.

  • Go with what you know and not what you feel. Kenapa gue bilang pilih apa yang lo tau bukan apa yang lo rasa? Karena feelings change. Sekarang lo ngantuk, nanti lo laper, nanti lagi ada lagi yang lain yang dirasakan. Ga ada habisnya dan pada akhirnya pekerjaan tidak selesai. Ini menurut gue adalah dasar dari seorang yang profesional, pekerjaannya tidak terganggu oleh emosinya. Untuk beberapa bidang pekerjaan, terutama pelajar, kepala itu lebih penting dari hati. Kalau anda adalah seorang artis atau musisi, beda cerita lah. Mungkin kalian memang perlu mood dan waktu yang benar untuk bekerja. But honestly, when there's a deadline on the way and you got no mood, pekerjaan harus tetap berjalan bukan?

  • If you don't like it, do it anyway. Belajar itu ibaratnya seperti olah raga; mau badan kekar, harus angkat berat. Mau pintar ya belajar. Yeah gue sambil ngetik ini agak gedek juga sebenarnya tapi... ya udah lah ya.

  • Bersyukur. Bersyukur masih bisa memilih, bersyukur masih ada pilihan, bersyukur masih ada orang yang mengingatkan kalau salah, bersyukur kalau salah masih ada kesempatan kedua. Anda masih muda, saya juga. Bersyukur anda sadar bahwa labil itu tidak sehat dan anda masih punya waktu berubah sebelum ini menjadi kebiasaan buruk. Sudah bersyukur? Sekarang coba jangan labil dan putuskan bahwa mulai dari sekarang I'll make right choices.

Yang mau berubah,
Athalia Karima Yedida Soemarko.