Bahasa Gado-Gado.

It's one thing to start a blog and it's another thing to keep writing in a blog.

I'm not having another writer's block, what occupy me at the moment are my MID SEMESTER EXAMS (scary background music playing). Thus I can't really say much because in a few minutes I would have to hop on the bus and ride away to campus to face my Islamic Law teacher and her oh-so-very-interesting bearded husband. And... I did not study for this. It's complicated, really. Tapi seperti yang di tulis di buku Hukum Islam, kenyataannya Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar maka daripada itulah (saahhhhh... mentang mentang baru belajar Bahasa Indonesia yang agak baik dan agak benar) Hukum Islam harus menjadi satu dasar yang harus di pelajari jika anda sekalian berminat untuk menjadi pengacara di Bumi Pusaka terncinta ini.

So anyway, when I was supposed to study yesterday, I got a chance to read my cheesy Indonesian poems. Jujur aja bacanya pengen muntah sendiri karena Bahasa Indonesia is not really my mother language. I was born and raised with Bahasa Indonesia as my first language, tapi berkurang terus kualitasnya karena makin jarang di pakai karena tiba tiba semua orang berubah halauan ngomong pake Bahasa Inggris. Jadi sekarang gue bertekad untuk menulis lebih banyak dengan Bahasa Indonesia yang diselingi dengan Bahasa Inggris juga. I call it Bahasa Gado-Gado. Cool, eh?

Here's an old poem written in Bahasa Indonesia. Memang agak sedikit garing, kayanya semua yang gue tulis dengan Bahasa Indonesia jadinya garing deh. Tapi nanti kalau puisi ini sudah menjadi lagu, garingnya bakal hilang dengan sendirinya. Serius.


Satu detik, satu menit, satu jam
Berubah menjadi hari, bulan, dan tahun
Berapa lama lagi harus aku menuggu
Untuk mendapatkan hatimu

Gunung, lembah sudah ku daki
Samudra sudah ku sebrangi
Tetapi masih saja
Kau buatku menunggu

Apa lagi yang kau inginkan?
Bintang di langit pun akan ku petik
Laut akan ku arungi
Hanya untuk mendapatkan hatimu

Lihat perjuanganku
Semua ini hanya untukmu


Oh, semua puisi yang di tulis bukan terinspirasi dari pengalaman ya HEHEHE. Ini semua hanya hasil imajinasi yang berasal dari pertanyaan tentang suatu situasi atau tulisan orang lain yang tiba tiba bisa di kembangkan menjadi tiga atau empat bait puisi. Bisa di bilang ga harus selalu belajar dari pengalaman sendiri untuk merasakan sakit, senang, atau susah. Cukup dengan membaca atau mendengar pengalaman orang lain. Kalau pinter ya hal yang buruk ga di ikutin, yang baik bisa di lalukan untuk mendapatkan hasil yang sama atau pun lebih. Kalau bego ya cari aja terus pengalaman sendiri sampai bonyok bonyok kiri kanan.

P.S. Tadi gue ketinggalan bis karena menulis entry ini. Ga lagi deh nulis blog pagi pagi sebelum kelas.

No comments:

Post a Comment