A Series Of Incomplete Entries.

I have 82 drafts sitting on Nerdus Maximus' page.

Delapan puluh dua tulisan—beberapa masih mentah tak berbentuk; seperempat tertulis dengan nada terlalu tajam for the general public; sedikit tentang cinta; dan mayoritas tentang kekesalan dan kekecewaan akan minimnya budaya membaca di Indonesia.

Hari ini gue membuka laman blog untuk menulis beberapa kalimat di entry baru yang I'm pretty sure won't be posted any time soon. Lalu terlihat lah angka 82 tersebut di samping kiri dashboard. Sembari membaca kembali beberapa tulisan yang sudah lama diterlantarkan terbesitlah pikiran, "Ini mah kalau mau diselesaikan semua ndak akan ada waktunya tapi kok sepertinya (meminjam frase yang dicanangkan oleh anak muda zaman sekarang) beberapa entries ini kalau dibuang sayang." And come to think of it, I have never stopped writing. I just haven't found the time to complete my incomplete thoughts.

So I'll post some hereincomplete, raw, uneditedcopy pasted from the original Draft entry.

By the way, ha-ha. Asli gue ngakak sendiri baca my own old, unpublished entries. Ada beberapa post yang akan gue lengkapi dengan komentar Athalia 2017 ketika membaca yang ditulis Athalia 2000something. Komentar Athalia 2017 ditulis di bawah judul draft tersebut highlighted in blue.

---
Benci Sama Cinta.
Original version.

Benci Sama Cinta yang dipublikasikan dalam blog ini beberapa tahun lalu was so heavily edited that it is safe to say that it is a completely different piece. I wrote it with full-fledged emotion at the height of my sadness when losing my grandfather. Gue merasa kalau versi awal yang gue tulis dan simpan langsung ke dalam Draft folder terlalu mentah, terlalu revealing. Jadi tak racik lagi lah the shorter version dan subjeknya pun dibuat rancu. You might have thought that it was written with a romantic-type of love as background. Tapi setelah beberapa tahun tersimpan, I think it's readyand I think the raw version of me is ready tooto be seen by the general public.


I assume that was not the first time when you felt scared. Ada kehilangan lain lagi kah yang membuat lo membenci cinta?
"Mungkin ada."
Apa lagi yang hilang karena cinta?
"Waktu."
Waktu hilang karena cinta?
"Ya. Waktu hilang karena cinta yang ternyata tidak imbang."
Could you please explain.
"Dua orang. Satu hubungan. Kekuatan jiwa dan raga ditumpahkan dalam hubungan tersebut. Ternyata yang ditumpahkan tidak imbang, malah ternyata terbagi-bagi. Kepada orang lain."
Apakah cinta akan pernah imbang?
"I don't know."
Dan lo membeci cinta karena takut kehilangan dan takut gemuruh itu kembali?
"Ya."
So how have you been operating?
"Gue menghindar dari cinta. Atau dari preferential treatments, from or to me. Jadi semua rata dan netral. Gue juga berfokus kepada output-nya.Jadi ketika sesuatu atau seseorang hilang, gue akan fine saja."
Why would you be fine?
"Karena gue tidak pernah merasakan perasaan di atas rata-rata."
Merasakan apa? Kehilangan? Apa yang akan hilang?
"Siapa yang akan hilang. Orang-orang yang gue sayang. I was scared when they go, they would take a piece of my heart with them. And then I will be incomplete."
Jadi lo takut karena lo takut kehilangan.
"Yes."
You are scared of them leaving and taking a piece of your heart with them when they go.
"Betul."
Why are you scared of being incomplete?
"Karena I cannot operate well if I am not complete."
Maksudnya?
"Ya. Kalau gue tidak utuh gue harus mulai lagi dari nol and that takes time."
Really?
"Ya. That's just the way things are."
Can you now recall when this started?
"Mungkin ketika kakek saya meninggal."
Apa yang lo rasakan?
"Something shook uncontrollably."
Tolong deskripsikan.
"Ada gemuruh hebat selama tiga menit setiap harinya mulai dari hari ketika gue menerima berita bahwa beliau pergi."
How violent was the quake?
"Pretty violent. Seingat gue titik tertingginya ketika gue melihat ke arah rumahnya dan beliau tidak ada untuk melambai tangan ketika gue berangkat kerja."
All right. Tadi lo bilang you used to hate love. Jadi sekarang sudah tidak lagi?
"No. Sudah tidak lagi."

---

Miring, Tapi Jangan Sampai Sinting.

Law school Athalia thought she knew everything. She doesn't. Tapi. Professional Athalia sekarang tahu bahwa there is no such thing as Balance 101. Adanya adalah menjalani hidup setiap hari, mengambil keputusan setiap hari, dan siap menghadapi konsekuensi dari keputusan tersebut di hari mendatang. Point is, I am starting to think before I do things. (Which I find weird karena dalam entry ini gue tulis "I think I think too much") But, hey, whatever.


I think I think too much.

Semester 6 sudah berlalu dan saya dengan lega bisa berkata, "Phew. I'm glad I survived that one." Sekarang jeng... jeng... jeng... Fase baru kehidupan telah tiba: skripsi! Tapi itu masalah nanti lah ya. Quick update on what has happened between January to June 2012... Gue baru menyelesaikan kompetisi pengadilan semu ke-4 gue which just so happen to be my last competition untuk masa undergraduate gue. Cukup sudah waktu yang telah saya habiskan di depan komputer mengutak-ngutik legal documents selama berbulan-bulan lamanya. It's really time to refocus dan sekarang juga adalah waktunya untuk kembali ke jalan yang benar dalam arti harus mulai membetulkan siklus tidur dan makan. Sekarang ini, which is June 2012, gue memutuskan untuk tidak mengambil semester pendek dan enjoy my last summer as a student. Dan to be perfectly honest di sini lah semua mulai kacau-balau.

Singkat cerita, perjalanan perkuliahan gue memang agak sedikit absurd. From the moment I stepped up into university, I wanted challenge. Gue ogah kuliah pulang kuliah pulang. Plus pelajaran pada waktu semester pertama juga agak krik dan memberikan gue lumayan waktu untuk mengambil aktifitas lainnya. So I took up moot court, ajang dimana mahasiswa di tantang untuk memecahkan secara hukum kasus fiktif dan prosesnya, kawan, berbulan-bulan lamanya. Hampir semua kompetisi yang gue lewati harus melewati seleksi nasional, artinya gue harus kerja keras untuk unggul dari anak-anak Indonesia lain yang ternyata tidak kalah tangguh dan juga memakan waktu. Secara ilmiah sudah di buktikan bahwa if you do something repeatedly for 30 days itu akan menjadi kebiasaan atau habit. Gue berkutat dengan jadwal ketat selama tiga tahun, being busy has become more than a habit. It has become a way of life. Dan sekarang gue liburan... Yang artinya jadwal gue kosong melompong dan rasanya... Aneh.

Kalau memang lo pernah membaca blog entry gue yang lainnya maybe you will know that sewaktu gue ga tau mau ngapain dan bertekad untuk duduk diam di sanalah otak gue berulah. My brain can do this thing where it backflips, run 1000 mph, and just... Membuat skenario-skenario yang hampir nyata dari yang tidak nyata. But I needed to think. I need to figure out what is wrong with me.

Ternyata, seletelah di telusuri sekian lama, I figured out that hidup gue ga seimbang. Gue pernah menulis tentang Sibuk 101, a message to people out there to stay busy. It worked, to a certain extent. Dan harus gue akui yang gue tulis juga ga ada salahnya tapi hidup itu ga ternyata selalu hanya untuk kesibukan. Gue ga bilang sibuk itu salah. No. Being busy kept me alive and well for the past three years. Tapi sekarang saatnya belajar beberapa hal lain yang life has to offer.

Here it is, folks, Balance 101.
  • Independent vs. Interdependent
Satu hal yang membuat gue cinta sekali akan kesibukan adalah the fact that you focus so much to your work dan dengan demikian masalah yang ga ada hubungannya dengan hidup lo akan secara automatis tidak akan terdaftar di pikiran lo. I didn't give a bleep tentang masalah-masalah orang di luar sana, orang yang dekat ataupun jauh karena yang ada di otak gue hanya ada: Hari ini gue harus bikin satu dua tiga empat lima. Itu selesai, terlalu capek untuk mikirin yang lain lagi. Blek. Tidur. Besoknya terulang lagi. Kuliah, buat tugas, meeting kiri kanan, urusin tugas lomba, kecapekan, tidur. My life was fine, baik malah. Prestasi ada; semua terurus dan tertata rapi indah. Hidup gue. Sendiri.

Liburan ini gue kembali "pulang", menemui orang-orang yang bisa dibilang gue tinggalkan selama tiga tahun terakhir. I went home to find out that ternyata ga semua orang bisa lari cepat dan ternyata hidup yang seperti itu hanya membawa kebahagiaan untuk satu orang saja. Jamie Cullum sang a song yang berjudul You're Nobody 'Till Somebody Loves You. Salah satu baitnya berkata, "You may be a king. You may posses the big fat world and its gold. But gold won't bring you happiness when you're growing old." Ternyata presetasi juga demikian, kawan. I was too busy to care. Gue pulang dan gue sadar kalau no man is an island. Kalau gue lari sendiri untuk meraih cita-cita, yeah sure I can go fast. Tapi dengan gue berjalan dengan dua orang atau lebih, I can go far. Ambil waktu untuk peduli dengan sekeliling lo. Jangan lupakan orang-orang di sekitar lo. It gets lonely up there when you're successful. Lo perlu temen. Jangan tinggalkan mereka buat kesuksesan lo sendiri. Fokus memang perlu. Tapi kalau mata itu selalu di arahkan ke matahari bukannya akan ada iritasi? Take some time, look around you. Ga semua orang di dunia ini sekuat lo. Pegang tangan mereka. Kalau mereka kuat, lo juga kuat kok.


---

Air.

Ditulis di Koi Kemang circa 2013 ketika gue mencium bau sengat yang familiar.

There is a reason why I refuse to sit indoors in certain cafes. From all five senses, my sense of smell is deadliest when it comes to unleashing emotions. A whiff of familiar smelling air pushes my brain to a territory known to none. I have built, in my mind, a graveyard. Thoughts unwanted, contemplation gone rouge, and pointless memories are all dumped into it. It is guarded with multiple locks and has only one key - a smell. Some people see, some listen, some feel, but I smell. It might sound odd. When I take a deep breath, my mind registers the smell of my surrounding. Thus when the memory is no longer necessary, I dump it along with its smell registry. The thing about air... It is so abundant that one never actually plans to be surrounded in familiarity. It catches you by surprise and you are suddenly engulfed in mental pictures of the things of the past. That's the thing about living. As long as you are alive, all thoughts and memories are alive too. Today I learned that you are not supposed to dumped it all in a graveyard. I have to accept that not everything in life is bright and beautiful. I made mistakes. There are broken pieces in memories. There is beauty in brokenness. It made you who you are. Live and always love.

---

Untuk Yang Layak Diperjuangkan.

2014. Dua ribu empat belas. Tahun yang lumayan bikin pening. Ketika sudah memasuki umur di mana teman-teman gue sudah mulai menyiapkan pernikahan, gue masih, ya… I was still doing things Athalia's way. 


Sendiri berani, berdua sehidup semati.

Dulu gue bisa dengan semangat membara menanamkan kalimat tersebut kepada orang-orang yang sedang... apa ya... berjuang untuk bertahan. Athalia sucks at romance and is not a believer of relationships based on merely on that feeling you all call as love. Gue tidak berbakat dalam segala yang berhubungan dengan keunyu-unyuan dan romansa. Menurut gue perasaan tersebut hanya angin lalu. Tapi gue paham betul kalau janji harus ditepati. Maka dari itu, I take extreme caution ketika memilih untuk mempercayakan hati. My research process is long and in-depth. Gue pernah mengulas dan mengibaratkan kalau memilih pacar lebih sulit daripada memilih presidenGirlfriend, that ain't no lie. That has to be done. And, goodness gracious, it is easier said than done (only if you do not set a strong foundation the first time).

Kenapa? Karena berjalan berdua tidak membuat hidup menjadi lebih mudah.

"Gue mau nikah tahun depan," cetus seorang teman dengan mantap. "Oh? Sudah siap?" tanya gue sambil menyendok sesuap nasi. (It's weird how these blogposts are always inspired by lunchtime conversations dan biasanya gue yang lapar sementara teman-teman gue ngelantur dengan ide-ide ajaib mereka. I love my friends.) "Yep!" jawabnya mantap. I stare at my friendI know she's ready. Dia jago masak, perhatian terhadap pacarnya, baik hati, cantik, soleha, dan lain sebagainya. Perfect wife material.

Lah gue...? Gue ga bisa masak—because I was at this point where I believe that women are no longer slave to the stove!—dan gue ga bisa nyetir. Gue baru akan mulai masuk industri professional. Gue masih sering gundah gulana tentang bagaimana gue bisa memaksimalkan waktu gue untuk membantu mempercepat perkembangan negeri ini. Gue secara finansial masih belum mapan. Dan gue masih belum sebaik hati, sesabar, dan seperhatian orang lain terhadap pasangan mereka. I operate my life with extermely high-level of cuek bebek. Kalau bebek bisa dicuekin, gue cuekin juga mungkin. Gue sedang berada dalam posisi di mana gue ga tau mau pilih jurusan apa for my graduate school. And there are my girlfriends prepping themselves up for marriage.

Marriage! The smallest unit of society established based on love between two individuals.

Based on love. I don't even know what love is! Bloody hell.

---

September 2016.

Apparently I copy pasted this WhatsApp conversation to the Draft folder. Entah apa rencana gue. Mungkin lima poin ini tadinya akan gue kembangkan untuk menjadi sebuah entry.

[16:52, 9/5/2016] Athalia K Y Soemarko: 1. I think, I read, and I write.    
[16:52, 9/5/2016] Athalia K Y Soemarko: 2. I have a weird educational background.           
[16:53, 9/5/2016] Athalia K Y Soemarko: 3. I get very curious on ideas and concepts.
[16:53, 9/5/2016] Athalia K Y Soemarko: 4. I think out loud.
[16:53, 9/5/2016] Athalia K Y Soemarko: 5. I am not easily amused.

Write All The Time.

"To Quentin Roosevelt
December 24, 1917
Dearest Quentin, 
Mother, the adamantine, has stopped writing to you because you have not written to her -- or to any of us -- for a long time.That will make no permanent difference to you; but I write about something that may make a permanent difference. 
Flora spoke to Ethel yesterday of the fact that you only wrote rarely to her. She made no complaint whatever. But she knows that some of her friends receive three or four letters a week from their loves or husbands (Archie writes Gracie rather more often than this -- exceedingly interesting letters). Now of course you may not keep Flora anyhow. But if you wish to lose her, continue to be an infrequent correspondent. If however you wish to keep her write her letters interesting letters, and love letters -- at least three times a week.
Write no matter how tired you are, no matter how inconvenient it is; write if you're smashed up in the hospital; write when you are doing your most dangerous stunts; write when your work is most irksome and disheartening; write all the time! 
Write enough letters to allow for half being lost. 
Affectionately,
A hardened and wary old father."

Theodore Roosevelt was the 26th U.S. president and a father of six children. The letter above was taken from Dorie McCullough Lawson's Posterity: Letters of Great Americans to Their Children.

Inikah Rasanya Cinta.

Inikah namanya cinta? Inikah cinta? Cinta pada jumpa pertama.
Inikah namanya cinta? Inikah cinta? Terasa bahagia saat jumpa.


"Hah. Memang bisa?" teriak gue sambil melihat keluar jendela.
"I can't hear you! Pelanin dulu suaranya," kata X.
I reached for the volume button to turn the sound down.
"Memang bisa cinta pada jumpa pertama?" tanya gue.
"I think the guys who sang the song are clueless too. Makanya mereka bertanya: inikah namanya cinta? Kalau lo yang ditanya pasti jawabannya: OF COURSE NOT! ARE YOU STUPID?!" balasnya.
"...probably."

Actually, I would say that. Or probably scream that. If whoever wrote that song asked the question to me, the song probably won't exist because I think there is no such thing as cinta pada jumpa pertama. Universe, feel free to prove me wrong. Let me meet men who fell in love with me pada jumpa pertama. Dan gue sepertinya akan butuh lebih dari tiga untuk bisa percaya bahwa notion ini benar and not just some random chance. If so, then probably I will change my grounds.

Mereka Bilang Kita Jodoh.

Mereka bilang kita jodoh.
Kamu dan aku sejalan sepikir.

Mereka bilang kita jodoh.
Ambisimu setinggi langit dan aku selalu mengejar mimpi.

Mereka bilang kita jodoh.
Derap langkahmu cepat dan aku tak pernah lelah berlari.

Mereka bilang kita jodoh.
Sikapmu tegas dan aku pun tak kalah keras.

Mereka bilang kita jodoh.
Kamu hemat berkata dan aku seorang pendengar.

Mereka bilang kita jodoh.
Tuhanmu adalah Tuhanku juga.

Mereka kira kita bodoh.
Karena setelah sepuluh tahun lebih kita masih belum bersama.

Mereka bodoh.
Karena cinta tidak bisa dipaksakan.

Mereka bodoh.
Karena tak cukup hanya sekedar sama untuk bisa hidup berdua.

15 to 16.

It's the new year! Masih punya mimpi dan cita-cita kah? Kalau masih, good for you. Kalau semangat sudah mulai sirna dan target hidup adalah uang, it's probably time to rethink things. Atau mungkin jawaban termudah if you do not fall under either categories, ngalir saja sob.

Karena gue bukan tipe yang ngalir dan kebetulan masih punya banyak mimpi, di tahun 2016 ini I set a different type of goals. Sudah cukup lah tahun-tahun hampa menulis cita-cita sebatas achieving that Victoria Secret's model body atau travelling through 6 countries in a year. Not saying that those are bad goals but on my list, a great body and spending $$$ on travels come second. Tahun ini gue ga menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berpikir terlalu in-depth tentang hidup di tahun 2015. What happened in 2015 happened. It was not a great year but I do see it as a year filled with transitions. A lot of gear changing in 2015.

So what's for 2016? 2016's aim is pretty simple to know what I would concentrate in and pursue graduate school by the beginning of 2017. The bigger goal? In whatever field I decide to concentrate in, I want to be able to work from home and still yield financial revenue at least three times higher than peers my age who work a 9-to-5 job in a normal work setting (and the revenue increases exponentially in the coming years). Why? Because in the course of my late 20s, I want to build a home for me and a sanctuary for many. My view on how to achieve this is blurred still for now but  I sincerely hope that in whatever I do, my 2016 will not revolve around me and me only. I have 2015 to thank for this change of perspective. Or else I'd still put "Climb corporate ladder in 2016 and be CEO by 2019" as a goal. Everybody can do that.

Cheers to a great year ahead,
Athalia Karima Yedida Soemarko

King Salomon on Virtuous Women.

"Who can find a virtuous wife?
     For her worth is far above rubies.
The heart of her husband safely trusts her;
     So he will have no lack of gain.
She does him good and not evil
     All the days of her life.
She seeks wool and flax,
     And willingly works with her hands.
She is like the merchant ships,
     She brings her food from afar.
She also rises while it is yet night,
     And provides food for her household,
     And a portion for her maidservants.
She considers a field and buys it;
     From her profits she plants a vineyard.
She girds herself with strength,
     And strengthens her arms.
She perceives that her merchandise is good,
     And her lamp does not go out by night.
She stretches out her hands to the distaff,
     And her hand holds the spindle.
She extends her hand to the poor,
     Yes, she reaches out her hands to the needy.
She is not afraid of snow for her household,
     For all her household is clothed with scarlet.
She makes tapestry for herself;
     Her clothing is fine linen and purple.
Her husband is known in the gates,
     When he sits among the elders of the land.
She makes linen garments and sells them,
     And supplies sashes for the merchants.
Strength and honour are her clothing;
     She shall rejoice in time to come.
She opens her mouth with wisdom,
     And on her tongue is the law of kindness.
She watches over the ways of her household,
     And does not eat the bread of idleness.
Her children rise up and call her blessed;
     Her husband also, and he praises her:
“Many daughters have done well,
     But you excel them all.”
Charm is deceitful and beauty is passing,
     But a woman who fears the Lord, she shall be praised.
Give her of the fruit of her hands,
     And let her own works praise her in the gates."


The biblical King Solomon was known for his wisdom, wealth and writings. The except above was taken from the New King James Version of Proverbs 31.

Atau Mungkin.

"Can I just ease into relationships, please!!! Like, I want to be able to calmly say 'Oh this is snug. How comforting. Let me stay here. I like the warmth.' But nooooo... Ini abad ke 21. Semua harus dance as hard as they can to attract a mate. You know who has to flaunt their beauty in the animal world?! The male. That's why male peacocks got pretty tails. The girl peacock would just go 'All right I see your effort. Let's have baby peacocks.' Tapi sekarang coba 'Aku harus cantik supaya I get a decent cowo.' Yang laki-laki udah ga usah usaha lagi padahal yang kelakuannya sama kadang sama seperti binatang siapa? Ya udah dong kalau kaya gitu biar treatment or the process kaya binatang juga. You go flaunt what you get to get the girl. Why do I have to be the one yang usaha?!" teriak X diujung sana.

"Are you comparing us to peacocks?" tanya Y.

"Aarrrgghhhh!" Lalu sambungan telepon terputus.


Dari semua lagu tentang cinta, satu line dari Eat, Sleep, Repeat yang ditulis oleh the American rock band Copeland menusuk gue every single time. Kata Copeland, "Love could be a great illusion that makes fools of brilliant thinkers everyday." Aduh.

Ilusi. Yang dibuat indah oleh Hollywood. Actually, no. Hollywood tidak menghancurkan atau membuat cinta sebagai suatu ilusi. I personally think that it is just packaged in a commercial way. Karena reality in itself will not sell. Feelings sells, emotion sells. Atau mungkin gue terlalu banyak nonton romantic comedies dua minggu terakhir ini. It's probably the latter and I'm not going to put the blame on Hollywood. They are just doing their job. Good for them. Tapi gue hidup dalam realita. What I see around me is nowhere near to a utopia. Thus I must be living in the real world, where not everything is bright and beautiful. Including that thing we all call love.

If you're wondering, I was X dan percakapan tersebut terjadi sekitar tiga jam yang lalu. Y is my best friend, for obvious reasons. She listens to my rants.

Dua minggu terakhir ini, I've been on a binge, a romantic comedy binge. I'm fine. I'm perfectly OK. Everything is great. Everything is lovely. I just need to be grateful. And watch less romantic comedies, drink less wine, or maybe grow some balls. Atau mungkin, I need to fix me.

I need to fix me.

"Jangan lari dari masalah." Frase yang pendek, padat, dan agak sedikit tepat yang dikatakan ketika gue sudah terlalu lelah untuk berdebat, berpikir, dan lain sebagainya. I like closing books that I know would not end well. Untuk apa diselesaikan ketika bisa diberhentikan sekarang saja. Afterwards, you clean your mess, I'll clean mine. Gue bukan orang yang terlalu fond dengan maintenance this is probably bad and might go on the list on the things that I need to fix about me. Ya sudah. OK. Jadi gue harus membereskan diri. Where to start?

Coldplay's Fix You just pipped on shuffle a second ago. The Universe is giving me a sign. Terima kasih, Chris Martin. But for your information I have nobody to fix me or guide me home. Dan ketika gue mengetik kalimat di atas lah gue menemukan akar dari masalah gue. Can you see it?

Let's keep this one hanging.



I do a lot of that by the way. I leave things hanging.

Athalia Soemarko.

Breeze it. Buzz it. Easy does it.

There are things in life that you have to know. There are things in life that I have to know. These are the things in life that is worth knowing at this point in life:
  1. You don't have to work hard, you must work smart. You want to be different? Work smart. What is smart? Go figure it out. I assume you are smart (or at least you think you are smart). You don't understand this? Don't bother understanding the rest.
  2. You don't have to get drunk to have fun. In the end you will find out that if you have massive amount of alcohol and no friends, it is not as fun as it seems. Find great friends. That is what you have to do.
  3. You do not have to look cool to be cool. Cool, in its essence, is not being accepted by anyone anyway. It is about feeling good in being who you are. Some people were born with it, some just have to accept that they were not but that does not mean they are not cool.
  4. You do not have to try too hard to do things in life. When it is supposed to come to you, it will. If it does not come to you, try another thing. If you can do it with least effort with maximum result, get better at it. You would be at the best of your field in no time.
  5. You have to take life easily. Take pressure easily. Take depression easily. Take everything easy. Things in life gets hard but take things easy. This might look easier said than done but believe me, you would make it through. It is easy.
I'm just throwing this out there in case some people might be reading. Plus I still have 7 hours of flight to kill before arriving in Japan.
Los Angeles, April 2011.

Tulisan anak sok tahu. Twenty years old Athalia who thought she had the world figured out. Ternyata ga juga. Ternyata sampai hari ini pun the world still confuses her. Tapi ini rahasia kita berdua. Until somebody finds out the truth, let's make living look easy breezy.

Fake it 'til you make it,
Athalia Karima Yedida Soemarko.

Benci Sama Cinta.

"I used to hate love."
Kenapa?
"I do not know. I just hated love."
OK. When did you start not liking love? Should I say "benci"? Benci is a very strong word.
"I can't recall the timeline. Dan ya, benci adalah kata yang tepat."
Baiklah. Benci. Kapan lo mulai benci cinta? The question will not answer itself.
"When it started scaring me."
When was that dan kenapa cinta mulai membuat lo takut?
"I told you. I cannot remember the timeline."
Tapi lo ingat apa yang lo rasakan?
"Yes, I remember."
So it was fear and you were afraid. Afraid of what?
"Everything."
What exactly were you afraid of?
"Kehilangan."
Will you cry?
"When I get scared? I will not."
Kenapa?
"Would crying help?"
Mungkin.
"Mungkin."

A Certain Nonchalance.

"I have discovered a universal rule which seems to apply more than any other in all human actions or words, namely, to steer away from affectation at all costs, as if it were a rough and dangerous reef, and (to use perhaps a novel word for it) to practice in all things a certain nonchalance which conceals all artistry and makes whatever one says or does seem uncontrived and effortless.

I am sure that grace springs especially from this—since everyone knows how difficult it is to accomplish some usual feat perfectly—and so facility in such things excites the wonder; whereas, in contrast, to labor at what one is doing as we say, to make bones over it, shows an extreme lack of grace and causes everything, whatever its worth, to be discounted. So we can truthfully say that true art is what does not seem to be art—and the most important thing is to conceal it, because if it is revealed, this discredits a man completely and ruins his reputation. I remember once having read of certain outstanding orators of the ancient world who, among the other things they did, tried hard to make everyone believe that they were ignorant of letters, and dissembling their knowledge, they made their speeches appear to have been composed very simply and according to the promptings of nature and truth rather than effort and artifice. For if the people had known of their skills, they would have been frightened of being deceived. So you see that to reveal intense application and skill robs everything of grace."

Baldassare Castiglione was a courtier who entered into the service of Francesco Gonzaga, the marquis of Mantua, in 1499 and Guidobaldo da Montefeltro, the duke of Urbino, in 1504. Later, in Rome, he served Pope Julius II and befriended the painter Raphael. The excerpt above was taken from Lapham's Quarterly.

Cara Membaca.

I am secretly satisfied with myself today. Though this might no longer be a secret since I'm writing it on a blog read by the general public.

Hari ini gue hijrah turun dari perpustakaan di lantai dua rumah gue ke ruangan kecil yang biasanya digunakan oleh ibuku sebagai ruang "nyalon kalau lagi malas ke salon" di lantai satu karena nyamuk yang makin merajarela. I'd kill them all but the buzz and the fuss is just not worth my time. So I moved. Ukuran ruangan dimana gue sekarang berada dan menulis kecil. Mungkin sekitar 2x3 meter persegi dengan jendela yang menghadap ke arah barat dan pendingin ruangan yang terlalu besar untuk ruangan sekecil ini. Apart from that, the room is empty. Sekarang hanya ada satu meja, satu kursi, tumpukan buku yang sedang gue baca, and my speaker which I placed facing the wall so that the sound will bounce around. The room's acoustics is great, the sound of my new found musics resonates beautifully. I cannot be more than happy. While writing this, my Dad texted kalau kecepatan wi-fi di rumah sudah dinaikan to the highest speed available for the Home Package. Wonderful! Sepertinya gue akan makin jarang keluar rumah.

I love working from home and I love my new home office (or study-space, karena I am yet to find, or create, a career with great financial returns that can be operated from home). An hour ago I tweeted about thinking about calling this spot as "The Brewery". Pada dasarnya brewery adalah pabrik bir. "Brew" dalam Bahasa Inggris adalah kata kerja yang artinya, menurut Kamus Merriam-Webster, to make beer, coffee, or tea; to start to form. Untuk memulai membentuk. As cheeky as it sounds, gue mau mulai membentuk. Salah satu yang gue mau bentuk di tahun 2015 ini adalah kebiasaan untuk menulis lebih banyak lagi. I haven't been writing much but I have been reading a lot. And I post what I read on one of my social media platforms, Instagram, which sometimes transform into a Question and Answer platform. One of the most frequent questions posted apart from "Edit photo-nya dimana, kakak" adalah "Gimana sih caranya baca buku...".

Aneh.

Sebenarnya jika ia yang bertanya bisa membaca caption yang gue tulis, ia yang bertanya pasti bisa membaca. That's the logic. Tapi mungkin yang bertanya belum berminat (atau belum pernah mencoba untuk mendorong diri) untuk membaca buku. Reading is a part of living, buat gue. Rencana Kerja Jangka Sampai Dipanggil Kembali ("RKJSDK") seorang Athalia Soemarko adalah to always love, to always learn, and to always share. Memang di tahun 2015 ini fokusnya di dua unsur: to always learn and share, dengan cara menulis. Yang ternyata tidak mudah, especially when it comes to the law which requires extra effort on my side but I love it nonetheless. Cough. Anyway, salah satu cara untuk menulis dengan efektif adalah dengan membaca, mengamati pemikiran dan gaya penulis-penulis yang sudah lalu, yang pernah menjalani pengalaman-pengalaman yang berbeda dengan gue, yang belajar hal-hal yang gue ga pernah pelajari, dan lain sebagainya. So I read. I read because I want to know. The world is vast and beautiful. Dan gue memang orangnya ga bisa diam. I have to buzz (like the mosquitos up at the library that's why we don't get along). So I figured, to shush mereka yang bertanya "bagaimana cara membaca buku" I might as well write what I do when I read a book.

Jadi bagi yang mau memulai kebiasaan membaca, for whatever reason, here are some little steps that will hopefully help.

Oh, catatan kecil sebelum mulai lebih jauh: you have to be curious. Kalau rasa ingin tahu lo ga nyala, mau buku setebal atau setipis apapun tidak akan menjadi asupan yang baik untuk otak lo. You will fall asleep while reading a 30-page book karena lo gatau kenapa lo membaca. That's really a habit yang bisa diubah. (I dare say kalau lo bisa kepo sama orang-orang yang ga penting untuk dikepoin, you can have the curiosity for something greater than urusan hidup orang lain yang harusnya ga lo urusin.)

Let's start.

  • CARI BUKU. Tadinya gue berpikir untuk mulai dari unsur kedua tapi sepertinya akan lebih apik kalau kita mulai dengan mencari buku (yang lo suka karena this will force you to make time). Unsur ini akan lebih mudah untuk dimengerti jika langkah-langkahnya gue rincikan dalam bentuk tanya jawab.
    • Langkah pertama, pergi lah ke toko buku. "Toko buku yang mana, kak?" Yang mana saja. I have no personal favorites, you shouldn't too (kecuali kalau lo ada kartu keanggotaan yang membuat pembelian lo jadi diskon setengah harga atau alasan ekonomi lainnya). Toko buku yang gue kunjungi selalu tergantung situasi dan kondisi. Kalau lagi di Pondok Indah Mall, ya Gramedia, Periplus, dan Kinokuniya. Kalau lagi di Pacific Place, Aksara dan Books&Beyond. Kalau lagi di Senayan City, Toko Buku Gunung Agung. There.
    • Langkah kedua, "kalau ke toko buku, ke bagian mana?". Untuk ini, tergantung selera dan kebutuhan. I usually skip the chick-lit section in its entirety. Novel atau buku romansa a la aku cinta kamu tapi kamu sudah memiliki kekasih lalu aku sedih dan menjadi melankolis berlebihan is not my thing. Lorong yang berisi komik juga jarang gue kunjungi. Terakhir menapakan kaki di sana adalah tahun 2000. Yes, it's been that long dan dulu pun hanya untuk beli seri Detektif Conan. I was 9 years old when I stopped reading comic books. Might want to do the same if it is not something you're passionate about. Jadi gue langsung menuju lorong Sosial-Politik dan Sejarah lalu berkutatlah disana sampai menemukan buku yang gue butuhkan atau menggelitik rasa ingin tahu. Kalau ingin membaca cerita fiksi, ya langsung ke lorong Sastra. Kalau memang bingung, head to the New Release section. Mulai lah dari sana.
    • Langkah ketiga berhubungan dekat dengan unsur kedua, yang adalah waktu. "Kalau ke toko buku, beli berapa buku, kak?" Tergantung ada waktu atau tidak, nak. Dan tergantung sasaranmu juga. If you want to learn how to finish a book, stick with one. Beli satu, duduk, baca. Habiskan. Dari depan sampai belakang. Jangan berhenti ditengah. Ha. Bis. Kan. Baru setelah itu kembali lah ke toko buku untuk beli buku baru.
    • "Habis itu ngapain, kak?" Bayar. Lalu cari waktu.

  • CARI WAKTU. Seperti setiap manusia di muka bumi ini, I only have 24 hours per day dan sepertinya setahun ke depan akan hanya ada 48 jam di akhir pekan yang gue bisa kutak-katik untuk membaca dan menulis. So I've been choosing my books carefully so that I won't have to waste time reading something that is not worth the while. Waktu kuliah, gue makan segala jenis buku karena banyak waktu dan sedikit tanggung jawab. Sekarang terbalik sudah (dan harapannya akan berubah menjadi seimbang 5 tahun kedepan). Maka dari itu gue lebih picky dengan apa yang gue baca. Kalau ada rangkuman yang mejelaskan buku tersebut dalam 3 atau 4 halaman atau dengan waktu sesingkat 15 menit, I usually skip the book. Kalau memang bukunya menarik dan waktunya tidak memungkinkan di akhir pekan, maka gue akan... Mari lihat unsur ketiga.

  • CARI TEMPAT. Kalau memang bukunya menarik dan waktunya tidak memungkinkan, gue baca di mobil ketika macet. Kalau sudah cukup tidur dan tidak harus mencuri waktu untuk menambah waktu tutup mata, gue mulai membaca. I don't drive jadi gue tidak membahayakan orang lain. Dan karena waktu SMP/SMA gue sering buat pekerjaan rumah di mobil jadi sudah ga ada lagi judul pusing karena baca di tempat yang bergerak. Salah satu tempat kesukaan gue untuk membaca fiksi adalah ketika di dalam pesawat. Imajinasi lepas tanpa gangguan. Penerbangan dengan waktu tempuh 8 jam sangat ideal untuk menghabiskan satu atau dua buku fiksi. Trains are all right too. Jakarta - Bandung memakan waktu 4 jam, Jakarta - Yogyakarta 8 jam; ada waktu ada tempat. Sebenarnya membaca bisa dimana saja dan kapan saja as long as I have my in-ear headphones. Setelah pencarian jauh dekat disini disana, Sennheiser CX-300 II sudah meneduhkan dan menenangkan gue dari tahun 2012. In this noise-filled world, my in-ear headphones is my mute button. Di mana pun gue bisa mendapatkan ketenangan, disitulah gue bisa mulai membaca. I create peace by blocking unnecessary noises. Ga usah ngawur-ngidul cari tempat di cafe atau tempat yang menurut lo kondusif. Create your own reading spot.
Those are my three steps. Untuk gue, duduk di The Brewery dengan buku atau artikel yang membuat gue go "Hmm..."  cukup fulfilling. Selamat membaca.

Salam,
Athalia Karima Yedida Soemarko.

Bersekolah Tapi Tidak Berpendidikan?

Masyarakat publik–anda dan saya–memiliki kewajiban yang harus kita pikul bersama untuk memajukan pendidikan bangsa. Selain pemerintah dan guru, pihak-pihak yang sangat terkait dalam lingkup pendidikan adalah orang tua dan anak-anak. Masing-masing harus menyadari, mengingat, dan melaksanakan perannya dengan sebaik-baiknya.
Untuk orang tua, kemampuan bisa dikatagorisasikan menjadi dua: kemampuan untuk mendidik dan kemampuan untuk menyekolahkan. Kata “didik” dijabarkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai kata kerja yang memiliki arti untuk “memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran”. Mendidik seyogianya tidak selalu membutuhkan uang yang banyak. Melatih dan/atau mendidik memerlukan waktu dan energi. Banyak orang tua yang bisa menyekolahkan anaknya tetapi melupakan aspek ‘didik’. Mereka menyerahkan keseluruhan tanggung jawab mendidik anaknya kepada guru dan pemerintah tanpa mengambil peran dalam pertumbuhan anak sendiri.
Untuk anak, bertumbuh dalam era globalisasi adalah satu keuntungan yang besar. Akses informasi melalui medium semacam internet, televisi, dan lain sebagainya sudah menjadi sangat mudah. Sekarang pilihan ada di tangan sang anak, dan juga dengan bimbingan orang tuanya, untuk memilih apa yang akan ia cerna. Harus ada keseimbangan antara asupan yang mendidik dan yang menghibur. Sang anak pun juga harus mengambil tanggung jawabnya untuk belajar. Tidak semua kewajiban memilih ada di tangan orang tua. Anak yang sudah cukup umur untuk mengambil keputusannya sendiri harusnya bisa memilih untuk mendidik dirinya sendiri.
Secara umum, tanggung jawab dalam pendidikan dibagi menjadi dua: sistemik dan penerapan. Mayoritas tanggung jawab sistemik ada kepada pemerintah dan guru. Sementara mayoritas tanggung jawab penerapan ada di tangan orang tua dan anak-anak. Jika setiap bagian mengambil dan melaksanakan peran masing-masing dengan sebaik-baiknya, penyelesaian masalah pendidikan di Indonesia akan berjalan lebih cepat.


Cuplikan pendek dari goresan pena dalam buku catatan yang sepertinya harus pensiun sebentar lagi. (Agustus 2014)